Saturday, December 28, 2013

Bara Maharani - 53

Bara Maharani
Karya : Khu Lung
diterjemahkan oleh Tjan Ing Djoe
JILID 10 : Kecintaan Chin Wan Hong

Sementara itu "Pat-Pit Siuw-loo" si malaikat berlengan delapan Cia Kim sekalian yang telah masuk ke dalam
gedung perjudian lama sekali belum juga munculkan diri, sedang bayangan hitam tadipun tidak menampakkan diri,
Dalam keadaan begitu Hoa Thian-hong harus menggunakan kesabarannya yang paling besar untuk menanti terus,
Beberapa jam kemudian keempat orang itu baru nampak muncul dari gedung perjudian dan berlalu dari situ
Pintu kota Cho-Chiu tidak pernah ditutup kaum pelancong dapat berpesiar kemanapun mereka ingin pergi dengan sebebas2nya, setelah keluar dari gedung
perjudian tadi keempat orang itu berangkat ketepi sungai di kota sebelah Timur Untuk main pelacur di atas perahu,
kemudian mengunjungi perkampungan Moo-Kee-Cung Untuk bermain dan bersantap menanti kentongan keempat telah lewat mereka baru nampak munculkan diri kembali.
Sepanjang perjalanan Hoa Thian-hong
menguntil terus tiada hentinya, pikirnya didalam. hati "Kedua belah pihak sama merupakan jago Bulim kelas satu, walau aku harus menguntil selama tiga hari tiga
malampun akan kuintil terus sampai selesai"
Sewaktu hendak keluar kota, agaknya bayangan manusia itu menyadari bahwa jejaknya tak bisa disembunyikan lagi karena daerah diluar tembok kota adalah tanah datar yang luas, badannya segera
merandek sejenak di belakang pintu kota.
Sedetik saja bayangan tubuh orang itu merandek, Hoa Thian-hong telah berhasil melihat jelas wajahnya.
Ternyata orang itu bukan lain adalah lelaki bercodet yang dijumpainya setiap hari di sudut loteng rumah makan.
Tanpa sadar semangat Hoa Thian-hong berkobar kembali, dia ikut keluar dari pintu kota.
Tiba-tiba….pria bercodet yang ada di depan rupanya merasakan sesuatu, badannya merandek sejenak dan berpaling ke belakang.
Hoa Thian-hong yang menyaksikan jejaknya sudah konangan, terpaksa keraskan kepala untuk mengikuti
lebih jauh.
Baru saja Pat-Pit Siuw-Loo sekalian berada kurang lebih setengah li diluar kota, si manusia bercodet yang menguntil terus selama ini tiba-tiba enjotkan badannya melayang ke depan, sambil menghadang jalan pergi beberapa orang itu bentaknya dengan suara berat, "Cia
Kim coba lihat siapakah aku?"
Mendengar bentakan itu "Pat-Pit Siuw-Loo" Cia Kim segera meloncat turun dari punggung kudanya.
Pria berlengan buntung itu mendengus dingin, sambil meloloskan sebilah pedang ia langsung menubruk ke depan.
Cahaya berkilauan memancar keempat penjuru, dalam waktu singkat kedua orang itu telah saling bergebrak sebanyak tiga jurus.
Begitu melihat jurus serangan yang dipergunakan lawannya, si malaikat berlengan delapan Cia Kim segera
berteriak dengan tiada terkejut, "Aah. kau adalah Ciong-Lian-Khek?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, bagaikan sambaran kilat kedua orang itu telah saling bergebrak
sebanyak lima enam jurus. Hoa Thian-hong yang menyaksikan kelihayan ilmu silat yang dimiliki si jago bercambang itu jadi melongo dan kesemsem, ia tak menyangka kalau kepandaian silat
orang itu jauh diluar dugaannya. Darah panas dalam rongga dadanya segera bergolak, saking tertariknya sampai ia lupa akan keadaan sendiri, selangkah demi
selangkah tubuhnya mendekati kalangan pertarungan itu.
Tiga orang yang datang bersama malaikat berlengan delapan Cia Kim waktu itupun sudah turun dari kudanya, ketika menyaksikan kedatangan Hoa Thian-hong secara mendadak mereka semua nampak tertegun.
Ciauw Khong yang pernah mengintip si anak muda itu secara diam-diam waktu ia 'Berlari racun' begitu melihat munculnya Hoa Thian-hong disana, segera ujarnya
kepada hweesio gemuk yang berada disisi tubuhnya, "Lapor Ngo-ya, orang ini bukan lain adalah Hoa Thianhong"
Dalam perkumpulan Hong-im-hwie padri gemuk ini menduduki kursi nomor lima, orang kangouw hanya tahu dia bernama Seng Sam Hauw, siapapun tidak tahu apa
gerakan keagamaannya, karena ia suka minum arak, suka perempuan dan suka membunuh manusia maka orang-orang memberi julukan "Seng Sam Hauw" atau
she-Seng yang punya tiga kesukaan pada orang ini.
Setelah mendengar laporan dari Ciauw Khong, padri yang bernama Seng Sam Hauw itu segera goyangkan bahunya mendekati si anak muda itu, tegurnya dengan suara ketus, "Apakah kau adalah keturunan dari Hoa Goan Sioe?"
Orang ini punya perawakan badan yang gemuk dan besar, sepintas lalu gerak geriknya nampak lamban dan tidak lincah, tapi dalam kenyataan begitu cepat hingga
sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Mendengar orang itu mengucapkan kata-katanya dengan nada tidak sopan, Hoa Thian-hong merasa amat mendongkol, dengan nada yang dingin dan ketus iapun
balik bertanya, "Toa hweesio, kau ada urusan apa?"
Pemuda ini sudah punya pengalaman, ia tahu bercakap2 dengan manusia dari kalangan Perkumpulan Sinkie-pang, Hong-im-hwie maupun Tong-thian-kauw tak
perlu memakai peraturan. karena itu sambil bercakap2 hawa murninya telah dihimpun di telapak kiri siap melangsungkan pertarungan sengit.
Seng Sam Hauw menyeringai seram, baru saja ia hendak mengumbar hawa amarahnya mendadak terdengar Ciong-Lian-Khek si manusia berlengan kutung
itu membentak keras, "Cia Kim aku si Ciong-Lian-Khek tidak akan membalas dendam atas lenganku yang kutung"
"Kau tidak akan membalas dendam atas kutungnya lenganmu, lalu apa gunanya beradu jiwa?" pikir Hoa Thian-hong dengan hati heran dan tidak habis mengerti.
"Kalau kau punya kepandaian keluarkan saja semuanya "terdengar Si malaikat berlengan delapan Cia Kim berseru sambil tertawa dingin. "Aku orang she Cia
akan melayani dirimu sampai kemanapun juga"
"Aku juga tidak membalas atas kekejian hatimu merebut istriku" bentak Ciong-Lian Khek kembali.
"Sudah kau tak usah banyak bacot. aku tahu kau hendak membalas dendam atas terbunuhnya anakmu"
"Apa dosanya seorang bocah berusia tiga tahun? mengapa kau membinasakan dirinya?"
Sambil menggertak gigi si malaikat berlengan delapan Cia Kim bungkam dalam seribu bahasa, pukulannya yang dahsyat laksana gulungan ombak ditengah samudra segulung demi segulung maluncur ke depan menandingi permainan pedang baja dari Ciong-Lian Khek.
Pertempuran tersebut benar-benar merupakan suatu pertarungan yang amat sengit, Seng Sam Sauw Hauw segera tertarik perhariannya untuk menyaksikan jalannya pertempuran yang maha seru itu hingga lupa untuk bergebrak melawan Hoa Thian-hong.
Ciong lian Khek yang dibebani oleh dendam sakit hati sedalam lautan memainkan jurus-jurus pedangnya
dengan hebat dan gencar, ia telah melupakan mati hidupnya. seluruh pikiran dan kekuatannya dikerahkan untuk berusaha membinasakan lawannya.
Si malaikat berlengan delapan Cia Kim yang mengandalkan kedelapan puluh satu jurus "Koei-Goan-Ciang-Hoat" nya Untuk menandingi lawan, meskipun sudah keluarkan seluruh kekuatan dan kepandaiannya namun ia selalu keteter dibawah angin, kendati beberapa kali ia menempuh bahaya untuk merebut posisi namun keadaannya masih tetap terdesak hebat,
Melihat keadaan sangat tidak menguntungkan bagi pihaknya, dalam hati Seng Sam Hauw segera berpikir, "Dalam sakit hati si bajingan berewok ini terhadap Samko bertumpuk2 bagaikan bukit, kedua belah pihak samasama tak sudi hidup bersama membiarkan manusia semacam ini tetap hidup di kolong langit hanya akan
mendatangkan bencana saja bagi diri Sam-ko, lebih baik kugunakan saja kesempatan yang sangat baik ini untuk
membasminya dari muka bumi."
Berpikir sampai disitu, niat busuknya segera terlintas di dalam benak. Sambil menyeringai seram ujarnya,
"Ciong Lian Khek, kau telah merusak kegembiraan diriku untuk menikmati malam yang begini indah. Hmm akan kusuruh kau merasakan kelihayanku….."
Badannya segera bergerak dan menubruk ke arah tubuh lawan, telapak tangannya yang besar kontan disodok kemuka-
Menyaksikan kejadian itu Hoa Thian-hong jadi gusar,segara bentaknya keras2, "Hay. toa-hweesio jangan mencari kemenangan dengan jumlah banyak"
Setelah mendengar bahwa Cia Kim telah
membinasakan seorang bocah berusia tiga tahun, timbul rasa benci dan muaknya terhadap orang itu. sifat kependekarannya muncul dan ia merasa harus menegakkan keadilan bagi umat Bulim, apalagi setelah
menjumpai Seng Sam Hauw hendak mencari kemenangan dengan andalannya jumlah banyak, ia segera munculkan diri untuk menghalangi niatnya itu,
"Hmmm….. kau anggap di tempat ini manusia macam dirimu punya hak untuk berbicara" terdengar pemuda berpakaian ringkas itu berseru dengan suara dingin
Sambil berseru ia maju ke depan dan melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah si anak muda itu.
Sejak turun gunung berulang kali Hoa Thian-hong harus menerima penghinaan dan siksaan hidupnya hampir saja musnah di tangan orang. hal itu lama
kelamaan menimbulkan rasa gusar dan mangkel dalam hatinya, apalagi setelah setiap hari disiksa oleh racun teratai membuat tabiatnya sama sekali berubah, hati serta tindakannya berubah jadi jauh lebih keji.
Terhadap orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Tong-thian-kauw pada dasarnya ia memang menaruh rasa benci, telapak kirinya segera dengan menghimpun tenaga dalam sebesar dua belas bagian bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.
Laksana kilat pemuda berpakaian ringkas itu meluncur kemuka, telapak tangannya dengan dahsyat meluncur datang mengancam tubuhnya.
Menyaksikan hal itu Hoa Thian-hong tertawa dingin, telapaknya bergerak kemuka dengan jurus "Koen-Sioe Ci-
Tauw" ia papaki datangnya ancaman tersebut.
"Blaaaam…" terdengar suara ledakan dahsyat bergeletar memenuhi angkasa, si pemuda berpakaian ringkas itu menjerit ngeri, badannya secara beruntun mundur beberapa langkah ke belakang dengan
sempoyongan, dari mulutnya darah segar muntah keluar sedang di atas tanah tertera nyata telapak kaki sedalam
tiga coen.
Sesudah mundur hingga delapan langkah jauhnya, akhirnya pemuda itu jatuh mendeprok di atas tanah. Ciauw Khong jadi amat terperanjat, buru-buru ia
mendekati tubuh pemuda berpakaian ringkas itu dan memeriksa keadaan lukanya.
Tampaklah sepasang matanya terpejam rapat, wajahnya pucat pias bagaikan mayat sedang dadanya bergelombang naik turun tiada hentinya, walaupun ia
menggertak gigi kencang kencang namun darah segar mengucur keluar tiada hentinya dari ujung bibir.
Ditinjau dari keadaannya itu jelas menunjukkan bahwa isi perutnya telah terpukul luka parah oleh serangan
lawan.
Sementara itu setelah serangannya berhasil memukul mundur pemuda berpakaian ketat itu, Hoa Thian-hong
alihkan sinar matanya ke arah kalangan pertempuran, dilihatnya Seng Sam Hauw bekerja sama dengan Cia Kim sedang bertempur mengerubuti Ciong-Lian Khek.
Si pria bercodet itu tidak nampak keteter walaupun ia harus satu melawan dua musuh tangguh, sekalipun begitu posisinya sudah tidak menguntungkan seperti tadi
lagi, ia lebih banyak melancarkan serangan dari pada melakukan pertahanan.
Ketiga orang itu sama-sama merupakan jago silat kelas satu yang sudah lama tersohor di kolong langit, masing-masing pihak mempunyai kepandaian andalan
yang berbeda, setelah pertempuran berlangsung, jurus-jurus serangan yang aneh saling bermunculan, ada yang lihay ada yang keji dan ada pula yang aneh, semua mempunyai keunggulan dan keistimewaannya sendiri2.
Hoa Thian-hong yang menyaksikan jalannya pertarungan dari sisi kalangan, setelah lewat beberapa gebrakan kemudian ia mulai merasa hatinya goyah dan matanya berkunang-kunang.
Dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah saling bergebrak sebanyak lima enam puluh jurus.
Ciong-Lian-Khek, dengan andalkan sebilah pedangnya yang berkilauan tajam laksana kilat menyambar ke sana menusuk kemari, tetapi apa daya kedua orang lawannya adalah jago-jago Bulim yang lihay dan punya nama.
Setelah bertempur lebih jauh akhirnya dari posisi di atas angin ia berada dalam keadaan seimbang dan dari posisi seimbang ia keteter dibawah angin.
Kalau si Ciong-Liau Khek harus bertempur dengan cara keras lawan keras terus-terusan, akhirnya ia pasti akan menderita kalah," pikir Hoa Thian-hong dalam hati. "Tapi kalau dilihat keadaannya yang sudah dipengaruhi emosi, tak mungkin orang itu suka mengundurkan diri sebelum
maksudnya tercapai….."
Bersambung
Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network












No comments:

Post a Comment