Bara Maharani
Karya : Khu Lung
diterjemahkan oleh Tjan Ing Djoe
JILID 11 : Giok Teng Hujien
Giok Teng Hujien tertawa manis. "Kau adalah seorang manusia yang terhormat "ujarnya. "baik siang maupun malam selalu ada saja orang yang melindungi dirimu secara diam-diam, rahasia yang akan kita bicarakan tak boleh sampai kedengaran orang lain"
"Selama cayhe bertindak dan berbuat secara jujur dan terbuka, entah ada rahasia apa yang hendak hujien bicarakan dengan diriku?"
"Huuuh Kau ini memang seorang lelaki yang keras diluar lunak didalam… " terang-terangan kau takut padaku, di mulut saja ngomongnya ketus dan gagah,
apakah kau tidak takut dimalu-malui orang?" seru Giok Teng Hujien sambil cibirkan bibirnya yang kecil.
"Hujien, tak ada gunanya kau memanasi hatiku"
Tiba-tiba ia teringat bahwa dirinya memang merasa agak jeri terhadap dirinya, maka sambil tertawa geli ia
segera bangkit dan berjalan ke sisinya, kemudian duduk ditepi pembaringan sambil menuding makhluk aneh yang berada di dalam bopongannya ia bertanya, "Apakah dia juga pandai menggigit orang?"
Giok Teng Hujien tertawa, "Dia bernama Soat-jia, menghadapi manusia semacam Cia Kim….Huuhl
Sekalipun ditambah seorang lagipun juga percuma. dalam waktu singkat mereka bakal keok digigitnya"
"Aaaah.. . masa begitu lihay? waaah … waaah…. cayhe tidak berani. mendekatinya….." seru Hoa Thianhong
dengan alis berkerut, sementara dalam hati ia merasa amat terperanjat.
"Kau ini…..si.setan cilik" maki Giok Teng Hujien sambil tertawa, ia segera menoleh ke arah "Soat-Jie" dalam pengakuannya dan memerintahkan, "Soat-jie tunggulah
diluar jendela Sana, sebelum ada perintahku janganlah melukai orang"
Rupanya makhluk aneh itu sangat memahami bahasa manusia, mendengar perintah dari majikannya tanpa ragu-ragu lagi ia segera bangkit berdiri.
Tampaklah bayangan putih berkelebat lewat melalui jendela yang terbentang lebar, dalam sekejap mata telah lenyap tak berbekas.
"Oooh … sungguh hebat" seru Hoa Thian-hong tanpa terasa dengan hati kaget.
"Aaah konyol kau ini" kembali Giok Teng Hujien memaki sambil tertawa, tiba-tiba ia merendahkan suaranya dan berkata lebih jauh, "Kau tentu mengetahui bukan siapa yang telah membinasakan Jien Bong,
anaknya Jien Han?"
Jantung Hoa Thian-hong terdengar amat keras, tadi dengan cepat ia berusaha untuk menenteramkan hatinya kembali, "Menurut apa yang kau ketahui, orang itu
adalah seorang gadis yang mengaku bernama Poei Che Giok. entah benar entah tidak aku sendiripun kurang jelas"
"Persoalan itu sih hanya suatu urusan kecil, tetapi kau musti tahu setelah dunia aman tenteram untuk beberapa waktu lamanya, dewasa ini mulai menunjukkan gejala perubahan yang besar, kau hanya kebetulan saja menjumpai kejadian itu maka alangkah baiknya kalau cepat-cepat mengambil keputusan"
"Bukankah kolong langit telah dibagi tiga dan pihak Tong-thian-kauw telah memperoleh satu bagian?apa sih
gunanya membikin gara-gara lagi?…."tanya si anak muda itu dengan alis berkerut.
Giok Teng Hujien segera tersenyum."Bagi suatu perkumpulan macam Sin-kie-pang ataupun Hong-im-hwie mungkin saja mereka puas dengan satu daerah tersebut, tapi bagi partai sekte agama lain keadaannya. cita-cita mereka adalah mengarungi seluruh jagad. nah. itulah dia
apa sebabnya Tong-thian-kauw tidak bisa hanya bertahan pada sebagian daerah saja."
Ia merandek sejenak, biji matannya yang jeli segera melirik sekejap ke arah wajah Hoa Thian-hong dengan kerlingan tajam kemudian terusnya, "Pek Siauw-thian
terlalu kemaruk akan harta dan kekuasaan, sedang Jien Hian adalah seorang manusia licik dengan pikiran yang
panjang, kedua orang itu sama-sama bertahan pada daerah kekuasaannya sekarang tanpa ada keinginan untuk meluaskan wilayahnya, waktu berlalu dengan cepat lama kelamaan apakah Tong-thian-kauwcu tidak punya keinginan untuk majukan daerah kekuasaannya?
inilah kesempatan yang paling baik untuk bertindak"
"Kalau begitu Tong-thian-kauwcu seharusnya adalah seorang manusia dengan ambisi yang amat besar dan kepandaian memimpin yang hebat?"
"Ambisi yang besar mungkin tak bakal salah, mengenai hebatnya kepandaian untuk memimpin sih sulit untuk dikatakan."
"Hujien entah apa maksud dan tujuanmu
mengucapkan kata-kata seperti ini?" tanya Hoa Thianhong sambil tertawa hambar.
"Dunia persilatan sedang kacau, dan perhatian orang tercurahkan ke pihak kami, kenapa kau tidak memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk
raembangun serta memperjuangkan cita-citamu?"
"Ooooh…. Rupanya ucapanmu mengandung maksud yang sangat dalam" teriak Hoa Thian-hong dengan hati tercengang. "Hujien, kau toh seorang enghiong dari
pihak Tong-thian-kauw, mengapa kau ucapkan kata-kata seperti itu kepadaku?"
Giok Teng Hujien segera tertawa cekikikan "Hiiih….hiiih kau betul-betul seorang manusia yang tak tahu diri"
Serunya pura-pura marah, setelah merandek sejenak sambungnya. "Angin berhembus dikala udara tenang, kematian Jien Bong telah membuat situasi dalam dunia persilatan jadi kacau dan mulai menunjukkan gejala keretakan diantara hubungan tiga kekuatan besar, usiamu pada saat ini masih muda, inilah kesempatan yang sangat baik bagimu untuk tunjukkan kelihayan dan angkat nama, apa yang harus dilakukan sepantasnya kalau kau mulai menyusun rencana sejak kini."
"Waaah…. kalau begitu lebih baik cayhe
menggabungkan diri ke dalam perkumpulan Hong-imhwie saja"
"Kenapa?" tanya Giok Teng Hujien dengan alis berkerut.
"Tabiat cayhe suka terus terang dan bicara seadanya, tidak suka menggunakan akal dan membantu kaum yang kuat dan kosen untuk bekerja, maka setelah kupikir
pulang pergi rasanya lebih enak dan menguntungkan kalau aku menggabungkan diri dibawah panji dibawah kekuasaan Jie Hian saja."
Giok Teng Hujien tahu kalau pemuda itu cuma bicara ngawur dan sekenanya saja, dalam kenyataan ia tidak ber-sungguh2 hati. maka sambil tertawa tanyanya,
"Dimanakah ibumu?"
"Dia orang tua sedang melatih semacam kepandaian sakti yang diberi nama Thong-Mo-Sin-Kang atau ilmu sakti pembasmi iblis asal ilmu tadi telah berhasil dilatihnya maka beliau pasti akan segera turun gunung."
"Aduuuh. rupanya kau lagi menggertak cici yaah?
Hmm tak usah yaa…." seru Giok Teng Hujien sambil tertawa. ia merandek dan alihkan pembicaraan kesoal lain
"Aku dengar setiap kali kau "Lari Racun" keadaanmu tambah payah dan serius, betulkah itu?"
"Terima kasih buat perhatian serta pertanyaanmu iiu, aku rasa dalam dua tiga bulan jiwaku belum sampai mati konyol"
Giok Teng Hujien pun gerakkan pergelangannya
mengeluarkan tiga buah jari tangan lalu digeserkan ke arah urat nadi untuk memeriksa denyutan jantung si anak muda itu.
Seolah olah menghindari pagutan ular berbisa dengan cepat Hoa Thian-hong tarik kembali tangannya ke belakang sambil berseru "Sekujur badan cayhe penuh dengan racun keji, barang siapa berani menyentuh tubuhku niscaya telapaknya bakal busuk dan keluar
nanah. kau jangan dekati diriku"
Giok Teng Hujien tertawa cekikikan, kemudian katanya, "Coba menurut penglihatanmu seandainya pihak perkumpulan Tong-thian-kauw ada maksud meluaskan wilayah kekuasaannya, maka kami akan turun tangan ke pihak yang mana lebih dulu?"
"Pertanyaan yang hujien ajukan terlalu berat, darimana cayhe bisa tahu mengenai persoalan yang maha besar itu?" si anak muda itu berpikir sejenak lalu terusnya. "Agaknya pihak Hong~Im-Hwie yang paling
lemah, kalau menurut penilaianku maka bila mau menyerang maka pertama-tama kita musti hancurkan pihak mereka lebih dahulu."
Sambil tertawa Giok Teng Hujien segera gelengkan kepalanya. "Bila dua kekuatan saling bertempur maka bukan saja kita beradu perajurit, panglimapun kita adu.
Pihak perkumpulan Sin-kie-pang menang karena memiliki jumlah prajurit yang banyak, sedang pihak perkumpulan
Hong-im-hwie lebih menang dalam hal panglima perangnya. Seandainya kita serang perkumpulan Hongim-hwie lebih dulu maka kerugian yang bakal kami derita akan terlalu berat, pihak Perkumpulan Sin-kie-pang yang bersembunyi dibelakang akan jauh lebih ampuh kekuatannya. Sebaliknya kalau kita pukul pihak Sin-kiepang lebih dulu, walaupun Hong-im-hwie memiliki beberapa orang lihay, itupun belum mampu untuk
menghadapi pihak Tong-thian-kauw."
"Sungguh lihay perempuan ini "pikir Hoa Thian-hong di dalam hati. "Usianya masih begitu muda, tetapi. ia telah menguasai keadaan serta situasi dunia dengan
begitu jelas, bukan saja otaknya cerdas siasat, yang dikemukakan pun tepat dan mantap, kedudukannya di dalam perkumpulan Tong Thiap Kauw pasti tidak kecil….…
Dalam bati berpikir demikian, diluar ia menjawab,
"Cara berpikir Hujien serta penganalisaan yang telah kau berikan sungguh hebat, cayhe merasa amat kagum"
Giok Teng Hujien mendengus ringan, lalu tertawa.
"Apa yang barusan kuutarakan barusan hanyalah siasat cadangan, bilamana keadaan tidak terlalu memaksa kamipun tak akan kerahkan segenap kekuatan kita untuk bertindak demikian, tahukah kau apakah siasatku. yang sebetulnya?…….."
"Apanya yang susah untuk menebak persoalan itu?" pikir Hoa Thian-hong di dalam hati, "Paling banter kau hanya berusaha menghasut dan memancing terjadinya selisih paham serta bentrokan langsung antara perkumpulan Sin-kie-pang dengan Hong-In-Hwie, sedang pihak Tong-thian-kauw duduk berpangku tangan
menonton dua harimau bertarung, dan kemudian menjadi nelayan yang untung …."
Sebenarnya apa yang mereka bicarakan hanyalah suatu kejadian yang sederhana, tapi bila sungguh2 dilaksanakan tidaklah akan segampang seperti waktu berpikir dan mengucapkannya keluar, meski si anak muda itu berpikir sampai disini tapi ia tetap berpura pura tidak tahu, katanya sambil tersenyum, "Pengetahuan cayhe amat cetek, tidak mengerti akan persoalan yang begitu besar dan berat, Hujien apa pendapatmu?
katakanlah agar cayhe bisa mendengarkan dengan seksama dan menambah pengetahuanku yang masih picik……."
"Telur busuk cilik" maki Giok Teng Hujien dengan wajah cemberut, tiba-tiba ia tertawa dan menepuk-nepuk bantal di sisinya sambil berseru, "Ayoh sini, berbaring aku hendak ajak kau berbicara."
Kerlingan mata yang genit serta tingkah lakunya yang merangsang seketika membuat Hoa Thian-hong jadi tersipu2 dengan wajah berubah jadi merah padam ia gelengkan kepalanya berulang kali.
"Lebih baik cayhe duduk saja disini"
"Kalau begitu padamkanlah lampu lentera itu"
Melihat udara sudah terang dan Cahaya sang surya telah memancar masuk lewat jendela, Hoa Thian-hong pun segera ayunkan tangannya untuk memadamkan
lampu lentera yang ada di atas meja, angin pukulan menyambar lewat Cahaya lentera seketika padam.
Siapa tahu dikala pikirannya bercabang itulah, Giok Teng Hujien bertindak Cepat, ia rangkul pundak si anak muda itu kemudian ditariknya ke belakang hingga roboh
terjengkang di atas pembaringan dan tidur
berdampingan dengan perempuan itu.
Haruslah diketahui, Giok Teng Hujien adalah seorang perempuan yang sudah tersohor akan kegenitannya, nama harumnya tersebar dimana-mana dan dikenal oleh setiap pria.
Terhadap perempuan ini sebetulnya saja Hoa Thianhong menaruh rasa jeri dan was-was, Sekarang setelah badannya dirangkul kencang dan berbaring disisi
tubuhnya yang montok, hatinya jadi kebat-kebit dan pikirannya terasa kalut. pikirnya di dalam hati
"Di kolong langit hanyalah perempuan dan manusia rendah yang sulit dihadapi demikian ujar2 kuno, seandainya aku menyalahi dirinya sehingga membuat
perempuan ini dari malunya jadi gusar, tentu saja ia akan mendendam diriku. Dalam keadaan serta situasi seperti
ini aku tidak ingin mengikat tali permusuhan dengan siapapun apalagi musuh tangguh macam dia, sebaliknya
kalau kau harus menuruti kehendaknya untuk berbuat tidak genah…. waaah entah bagaimana akhirnya?….."
Setelah dipikir bolak-balik ia belum berhasil juga menemukan suatu cara yang dirasakan paling bagus, tanpa terasa hatinya jadi semakin tak tenteram. Bagaikan duduk di atas jarum bergeser kesini tak enak bergeser kesanapun sungkan.
Terdengar Giok Teng Hujien tertawa merdu, serunya, "Aku mengerti bahwa kau bukanlah makhluk ajaib yang berada di dalam kolam, tidak nanti kau rela masuk jadi anggota perkumpulan Tong-thian-kauw dengan tulus Hati, semakin tak masuk diakal lagi kalau kau rela menggabungkan diri dengan pihak Houg Im Hwie ataupun Sin-kie-pang, bukan begitu?"
Hoa Thian-hong hanya berharap bisa cepat-cepat melepaskan diri dari rangkulan mautnya, maka ia lantas menjawab, "Cayhe hanya sebatang kara dan kekuatannya terbatas sekali, apalagi sudah kenyang disiksa kesana kemari. Kalau pihak Tong-thian-kauw suka
menerima diriku jadi anggota, Cayhe lebih balk menyerah saja"
"Eeei….Bajingan Cilik, kau jangan lain diluar lain di hati, mengerti?" maki Giok Teng Hujien sambil tertawa.
"Hmm….. Hmm….. sekalipun Tong-thian-kauw suka menerima dirimu mereka juga tak ingin mengundang setan masuk pintu."
Kalau memang begitu, silahkan hujien segera berlalu"
Giok Teng Hujien tertawa Cekikikan. "Sudah begini saja aku akan memberi kedudukan yang terhormat sekali kepadamu" serunya. "Asal kau suka menjadi anggota perkumpulan kami maka akan kupersilahkan dirimu Untuk menduduki jabatan sebagai Kauwcu dan aku jadi wakilnya, dengan sepenuh hati dan sepenuh tenaga kubantu dan lindungi dirimu. Bagaimana? Apa kau ada, minat?
"Loo.. apa Hujien sudah tidak berada dibawah perintah Tong-thian-kauw lagi, masa di dalam sekte agama tersebut masih terdapat organisasi lain lagi?"
"Hiih….hiih..,.hiih .. kalau orang tidak serakah langit dan bumi pasti akan ambruk dan kiamat tentu saja akupun ingin mendirikan sebuah perkumpulan sendiri"
Diam-diam Hoa Thian-hong terkejut juga setelah mendengar perkataan itu, pikirnya "Ooh. ternyata di dalam tubuh perkumpulan Tong-thian-kauw-pun terdapat orang yang secara diam-diam mengandung maksudmaksud tertentu…:"
Berpikir sampai disitu, la sengaja berlagak pilon dan seolah olah tak tahu urusan apapun. katanya, "Cayhe
duga sang Kauwcunya tentulah Hujien sendiri. bukan begitu? tapi…. apasih nama perkumpulanmu itu? sudah ada berapa banyak anggota perkumpulanmu itu?"
"Andaikata kau suka menjabat sebagai kauwcuya maka aku adalah anggotamu yang pertama, kau dan aku dua orang bekerja sama bersatu hati memukul rata
seluruh kotoug langit, aku tanggung banyak keuntungan yang bakal kita peroleh" Giok Teng Hujien sambil
mengerdipkan biji matanya yang jeli, sinar matanya berputar lalu dengan wajah serius ia menambahkan,
"Bagaimana kalau kita namakan perkumpulan Thian Te Kauw saja?"
Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong.
"0oooh, kiranya hujien sedang mempermainkan diriku, hampir saja cayhe kira apa yang kau katakan adalah sungguh2l"
Secara lapat2 iapun dapat menangkap arti serta makna dari ucapan itu, jelas Giok Teng Hujien telah mengutarakan perkataan tadi dengan arti rangkap. secara diam-diam ia sedang memberi kisikan kepadanya bahwa, Sejak bergaul dengan Chin Wan Hong selama beberapa waktu, pikirannya boleh dibilang sudah mulai terbuka terutama sekali mengenai soal cinta asmara, pikirannya sudah tidak sebodoh dan secupat dahulu lagi mengenai soal muda-mudi. Sekarang setelah ia berbaring berdampingan dengan Giok Teng Hujien ditambah pula dengan bau harum semerbak yang aneh berhembus masuk ke dalam lubang hidungnya membuat ia jadi mabok dan seolah olah sedang melayang menuju ke nirwana yang penuh dengan bidadari.
Bersambung
Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network
No comments:
Post a Comment