Bara Maharani
Karya : Khu Lung
diterjemahkan oleh Tjan Ing Djoe
JILID 11 : Giok Teng Hujien
Setelah hweesio gede itu mengambil keputusan untuk merubah dari posisi bertahan jadi posisi menyerang, Hoa
Thian-hong seketika terdesak hebat dan mundur berulang kali, kini ia yang dibikin kelabakan oleh teteran musuh.
Mendadak Ciong Lian Khek memperdengarkan suitan rendah yang berat tapi tajam, suatu suitan yang aneh
dan tidak dimengerti apa maksudnya.
Suitan tersebut berkumandang di angkasa bagaikan jeritan setan dan lolongan srigala. begitu pedih dan menusuk pendengaran membuat siapapun yang
mendengar merasakan hatinya jadi bergidik dan bulu roma pada bangun berdiri.
Cia Kim si malaikat berlengan delapan jadi terkejut dan tercekat hatinya, nyalinya pecah dan tanpa berpikir panjang lagi ia jejakkan sepasang kakinya ke atas tanah
dan kabur dari situ.
Cahaya tajam berkelebat lewat, ditengah jeritan kesakitan sebuah lengan kiri Cia Kim si-malaikat berlengan delapan itu terpapas putus dari tubuhnya,
darah segar segera muncrat keempat penjuru dan menodai seluruh permukaan bumi.
Cia Kim bergelar malaikat berlengan delapan, kepandaian silatnya justru terletak pada sepasang telapaknya itu. Sekarang sesudah lengan kirinya terpapas
kutung maka ilmu silat yang dimilikinya boleh dibilang sudah hilang keampuhannya. Berada dalam keadaan begini, tentu saja ia tak berani berdiam terlalu lama lagi disitu, baru saja kutungan lengannya jatuh ke atas tanah ia sudah kabur jauh dari kalangan, dalam sekejap mata tubuhnya sudah berada puluhan tombak jauhnya.
Ciong-Lian-Khek tertawa seram, pundaknya bergerak seakan-akan hendak melakukan pengejaran, tiba-tiba ia urungkan niatnya tersebut dan putar badan menubruk ke arah Seng Sam Hauw.
Pecah nyali hweesio yang mempunyai tiga kesukaan ini, sepasang telapaknya dengan segenap tenaga didorong ke arah depan, kemudian dengan menggunakan kesempatan yang sangat baik itu ia loncat
keluar dari kalangan dan mundur ke belakang.
Semua peristiwa itu terjadi dalam waktu yang amat singkat ketika Coe Siauw Khek menjumpai Cia Kim kabur, ia jadi gugup dan ketakutan setengah mati, tanpa
berpikir panjang ia ikut loncat naik ke atas kudanya dan melarikan diri dari situ.
Dalam pada itu sambil memegang pedangnya Ciong Lian Khek berdiri angker ditengah kalangan kedua matanya yang memancarkan Cahaya tajam menatap di
atas wajah Seng Sam Hauw tanpa berkedip.
Dia adalah seorang manusia yang mengalami patah hati, kemurungan dan kekesalan sudah menjadi suatu kebiasaan baginya, sekarang sambil membungkam dalam seribu bahasa ia menatap terus wajah Seng Sam Hauw membuat hweesio itu jadi mengkeret, agaknya sebelum
hweesio dengan tiga kegemaran ini buka suara diapun tak akan berbicara.
Diam-diam Seng Sam Hauw bergidik, ia takut pembicaraan yang salah mengakibatkan terjadinya kembali suatu pertempuran yang tidak menguntungkan'
dalam posisi dua lawan satu ia sadar bahwa kepandaiannja bukan tandingan lawan maka tanpa mengucapkan sepatah katapun ia loncat naik ke atas kudanya dan kabur ke dalam kota.
Lama sekali Ciong Lian khek berdiri termangu-mangu disitu menanti bayangan punggung musuhnya telah lenyap tak berbekas dari pandangan, ia baru melirik
sekejap ke arah Hoa Thian-hong kemudian berjalan masuk menuju ke arah kota.
Terhadap orang ini Hoa Thian-hong mempunyai kesan yang baik, ditengah perjalanan ia segera menegur,
"Sebutan apa yang harus boanpwee gunakan untuk memanggil dirimu?"
"Tak usah kau sebut apa apa" Hoa Thian-hong tersenyum. "Sayang sekali, hari ini kita tak berhasil membasmi beberapa orang bajingan itu."
Ciong Lian Khek alihkan sinar matanya memandang sekejap ke atas wajahnya lalu berkata, "Keadaanku tidak jauh berbeda antara hidup dan mati, usiamu masih amat muda, mengikat tali permusuhan dengan mereka hanya.
akan mendatangkan marabahaya bagi dirimu saja, lebih baik kau tak usah mencampuri persoalan ini …"
"Terima kasih atas nasehat yang cianpwee berikan kepadaku," sahut Hoa Thian-hong sambil tersenyum.
"Maksud boanpwee hanyalah ingin membasmi kawanan durjana dari muka bumi agar umat Bulim bisa hidup dengan aman dan tentram "
"Hmmm apa yang terjadi sekarang adalah Takdir, dengan mengandalkan kekuatanmu seorang berapa banyak durjana yang sanggup kau lenyapkan? percuma .. akan sia sia belaka usahamu itu?"
"Boanpwee akan berusaha dengan segenap
kemampuan yang kumiliki, sampai mati perjuanganku baru akan berakhir, sukses atau tidak itu bukan jadi soal."
Jawabannya ini tenang dan sederhana tapi penuh mengandung kepercayaan pada diri sendiri, seakan-akan apa yang akan dilakukan adalah suatu kewajiban baginya.
Agaknya Ciong Lian Khek ada maksud membantah, bibirnya bergerak seperti mau bicara tapi akhirnya dia batalkan maksudnya itu. Setelah merandek beberapa saat lamanya ia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain, ujarnya, "Apa maksudm berdiam di kota Cho-Chiu dan
setiap hari masuk keluar rumah makan sambil mempopulerkan "Lari Racun" mu itu? Apakah kau ada suatu tujuan tertentu?"
"Boanpwee sedang mencari jejak ibuku, maka kulakukan kesemuanya itu agar bisa menarik perhatian dari dia orang tua." Air muka Ciong-Lian-Khek rada
tergerak oleh perkataannya itu, ia segera bertanya: Sekarang ibumu berada dimana?"
Tiba-tiba ia mendongak memandang angkasa dan menghela napas panjang, sambungnya, "Kekuatan kaum iblis dan sesat makin berkembang jadi besar, kekuasaan serta pengaruhnya jauh lebih hebat dari keadaan dulu…. sebaliknya kaum lurus dan kaum pendekar makin hari makin musnah dari pendengaran, sekalipun ada Hoa hujien yang turun tangan melakukan pimpinan, belum tentu masalah besar ini bisa diselesaikan"
Bibir Hoa Thian-hong bergerak hendak mengatakan sesuatu. tapi dengan cepat niatnya itu dibatalkan kembali.
Rupanya ia hendak berkata bahwa tenaga lweekang yang dimiliki ibunya telah musnah dan, luka lama yang dideritanya hingga kini belum sembuh, tapi secara tiba-tiba hatinya tergerak, pikirnya, "Sekarang kaum iblis makin cemerlang dan berkuasa sementara kaum pendekar makin terjepit dan putus asa, satu-satunya harapan mereka masih tertumpuk pada pundak ibuku, lebih baik untuk sementara waktu kukelabui dahulu
mereka semua daripada hati mereka semakin kecewa dan putus asa, sekali semangatnya telah punah maka sepanjang masa sulit untuk membangun kembali."
Karena berpikir demikian, maka ia lantas tertawa paksa dan menyahut, "Ibu memerintahkan aku agar menunggu di kota Cho-Chiu, apakah cianpwee kenal
dengan ayah ibuku?"
"Di kolong langit siapa yang tak kenal dengan Hoa Tayhiap serta Hoa Hujien ..?"
Sembari bercakap-cakap kedua orang itu meneruskan perjalanannya, beberapa waktu kemudian merela telah masuk ke dalam kota.
Ciong-Lian Khek menyapu sekejap ke arah sekeliling tempat itu, lalu dengan nada serius ujarnya, "Setelah Cia-Kim kehilangan sebuah lengannya, kemungkinan besar rasa gusar dan dendamnya dilampiaskan ke atas tubuhmu. apa lagi setelah mereka mengetahui akan' asal-usulmu .keadaan semakin gawat kau musti tahu semakin besar sebuah pohon semakin sering dihembus angin, persoalan ini bukanlah permainan kanak2, aku harap kau suka berhati-hati dan waspada selalu, terutama terhadap serangan mereka atas dirimu secara mendadak."
"Terima kasih atas petunjuk serta nasehat dari cianpwee, boanpwee selamanya tak berani bertindak secara gegabah," jawab Hoa-Thian-hong sambil
anggukkan kepalanya.
"Nah, hati-hatilah" sekali lagi Ciong-Lian-Khek memesan wanti2, kemudian ia putar badan dan berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang menjauh, Hoa Thian-hong merasa hatinya jadi iba dan sedih terutama setelah mengetahui pengalaman pahit yang
telah dialami orang itu, setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya, akhirnya iapun berlalu dari situ.
Ketika kembali ke rumah penginapan fajar
menyingsing, teringat akan janjinya yang disampaikan si utusan pencabut nyawa Ma Ching-san diam-diam ia merasa geli.
Dengan melewati tembok pekarangan ia loncat masuk ke dalam rumah penginapan, kemudian membuka jendela dan menerobos ke dalam kamarnya, mendadak hidungnya mendengus bau harum yang sangat aneh, hatinya jadi bergerak dan dengan cepat ia urungkan
niatnya untuk masuk.
Tiba-tiba terdengar serentetan suara teguran yang. lembut dan halus berkumandang datang dari arah pembaringannya, "Siauw-ya, kau tentu merasa sangat lelah bukan?"
MENDENGaR teguran itu sepasang alis Hoa Thianhong segera berkerut tegurnya dengan suara berat:
,Jago lihay dari mana yang berada disitu?"
"Cici yang ada disini" jawab orang itu sambil perlihatkan separuh tubuhnya dari balik pembaringan.
"Masuklah dengan hati lega, jangan biarkan bajumu basah oleh embun pagi"
Hoa Thian-hong dengan sepasang matanya yang jeli sempat melihat jelas raut wajah orang itu, dia adalah seorang perempuan cantik bersanggul tinggi berhidung
mancung berbibir kecil dan rasanya pernah dikenal olehnya, setelah diingat-ingat kembali ia Segera terbayang kembali akan pemandangan sewaktu berada
ditepi pantai Sungai Huang-hoo tempo dulu, Kiranya perempuan Cantik itu bukan lain adalah Giok Teng Hujien dari perkumpulan Tong-thian-kauw.
Dalam hati segera pikirnya, "Seluruh tubuhku telah penuh dengan racun, badanku sudah kebal terhadap
racun macam apapun. Kecuali di dalam ilmu silat kita belum pernah bergebrak untuk mengetahui siapa menang siapa kalah, rasanya dia pun tak akan sanggup
mengapa-apakan diriku……."
Karena berpikir begitu la lantas jejakkan kakinya dan menerobos masuk ke dalam kamarnya lewat jendela.
Terdengar Giok Teng Hujien berkata, "Tutuplah pintu jendela dan pasanglah lampu lentera"
"Hmm maaf cayhe sedang lelah. lebih baik kau turun tangan sendiri…:" tampik Hoa Thian-hong dengan nada ketus, habis bicara ia segera duduk dikursi.
Giok Teng Hujien tertawa riang, "Eeeif bukankah kau telah masuk jadi anggota perkumpulan Tong-thiankauw…?"
tegurnya. "Bagaimanapun aku toh menjadi
anggota lebih dahulu, kalau dihitung maka aku lebih punya hak dari pada dirimu bukan begitu?"
"Oooh….. Jadi ia sudah tahu akan pertarunganku melawan si hweesio gede tadi…" pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.
Di dalam ia berpikir demikian, diluar ia menjawab dengan nada hambar, "Pek Kun-gie undang diriku untuk masuk menjadi anggota Sin-kie-pang, tapi akhirnya dia menyesal. Aku adalah seorang manusia yang membawa
sial, aku takut perkumpulan Tong-thian-kauw pun tak akan mengijinkan aku menancap kaki disitu?"
Sambil berbicara ia awasi pihak lawannya lebih seksama lagi. Tampaklah pada tangan kanannya ia membawa sebuah Hud-tim sedang di tangan kirinya membopong makhluk aneh berbulu putih mulus, bermata merah serta berbentuk mirip rase itu. Sikapnya agung dan senyuman manis selalu menghiasi ujung bibirnya.
Makhluk aneh berbulu putih itu sebenarnya sedang tidur, kini ia mendusin. Sepasang matanya yang berwarna merah memandang kesana kemari dengan
sikap yang aneh, membuat orang yang memandang jadi tidak tenteram dan berdebar.
Dalam hati si anak muda itu kembali berpikir, "Si Cukat beracun Yauw Sut adalah manusia licik yang sangat ditakuti oleh setiap umat Bulim, tetapi setelah ia
berjumpa dengan Giok Teng Hujien sikapnya ternyata begitu hati-hati dan tak berani bertindak gegabah, dalam segala hal ia mengalah tiga bagian kepadanya. hal ini
menunjukkan kalau perempuan ini seandainya tidak memiliki ilmu silat yang sangat lihay. tentulah memiliki tindakan yang paling ganas dan kejam …."
Berpikir sampai disitu, tiba-tiba terdengar Giok Teng Hujien telah berkata kembali, "Duduklah di atas pembaringan, aku hendak mengajak kau untuk melakukan pembicaraan yang seksama."
"Hujien. kalau kau ada persoalan katakanlah, cayhe akan mendengarkan dengan serius "sahut Hoa Thianhong
dengan sepasang alis berkerut.
Bersambung
Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network
No comments:
Post a Comment