Bara Maharani
Karya : Khu Lung
diterjemahkan oleh Tjan Ing Djoe
JILID 10 : Kecintaan Chin Wan Hong
Setiap pagi ia pasti nomor dua tiba disitu, dalam pada itu sinar matanya telah berkelebat memandang sekejap ke arah orang yang datang lebih duluan itu.
Orang tersebut adalah seorang pria bercambang yang kehilangan sebuah lengan kirinya, di atas jidat orang itu tertera sebuah codet bekas bacokan golok yang amat panjang sekali, sekilas memandang tampang orang itu kelihatan mengerikan sekali.
Codet bekas bacokan golok itu telah menutupi usianya dan menutupi pula raut wajah yang sebenarnya.
Setiap pagi ia pasti datang lebih duluan dan
selamanya pula duduk menyendiri di sudut tembok, sambil mencekal teko air teh seringkali ia memandang keluar jendela dengan pandangan mendelong, badannya jarang bergerak dan wajahnya selalu murung.
Baru saja Hoa Thian-hong ambil tempat duduk pelayan telah menghidangkan seteko teh wangi serta senampan bak-pao yang masih mengepulkan asap. si anak muda itu memenuhi cawannya dengan air teh lalu perlahan lahan diteguknya, setelah itu mulai menikmati sarapan paginya.
Terdengar dari arah tangga loteng berkumandang suara derap kaki manusia, seorang pria berusia pertengahan yang memakai ikat kepala warna hijau dan
menggoyang goyangkan kipasnya naik ke atas loteng, sinar matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu
kemudian sambil tertawa terbahak bahak ia menjura ke arah si anak muda itu.
"Haaaah…. haaah…. haaaah…. Thian-hong-heng, hari ini siauwte berhasil menyusul dirimu"
"Selamat Pagi Ma-heng" sahut Hoa Thian-hong.
Sambil mengangguk. "Siauwte pun baru saja tiba"
Kiranya orang ini she Ma bernama Ching-san dengan julukan " Ciauw-Hoen-Si-Ci" atau si utusan pencabut nyawa, ia bekerja di pihak perkumpulan Tong-thian-kauw
dengan tugas diluar.
Hoa Thian-hong yang telah berdiam selama beberapa bulan di kota Cho-Chiu, walaupun belum barhasil menemukan ibunya, tetapi semua kurcaci yang ada di
kota tersebut telah dikenalnya satu per satu.
Sementara itu si Utusan Pencabut nyawa Ma Chingsan telah duduk disisinya, lalu dengan suara rendah ujarnya, "Thian-hong heng, mumpung kedua orang si tua
bangka yang tidak modar2 itu belum datang, bagaimana kalau kita membicarakan sesuatu dengan hati
sejujurnya."
"Sudahlah. tak usah kau bicarakan lagi," tukas Hoa Thian-hong Sambil tertawa "Siauwte sedang menunggu orang, tiada waktu bagiku untuk berangkat ke kota Leng- An"
Ia merandek sejenak, kemudian sambil tersenyum tambahnya, "Siapa yang tidak tahu akan kelihayan dari Giok-Teng Hujien, usia siauwte masih muda belia, aku masih tidak pingin mempertaruhkan batok kepalaku sebagai bahan gurauan…."
Buru-buru si Utusan Pencabut Nyawa Ma Chiang San goyangkan tangannya berulang kali. "Kau jangan percaya dengan perkataan kedua orang tua bangka yang ngaco belo tidak karuan itu. Giok Teng Hujien dari perkumpulan kami bukanlah manusia sadis seperti apa yang dikatakan
mereka, terus terang saja kukatakan bahwa…"
Ketika dilihatnya orang itu celingukan kesana kemari tidak berani bicara secara blak2an, Hoa Thian-hong segera tertawa nyaring, katanya, "Haaah….haaah….Maheng,
bila kau ada urusan katakanlah terus terang"
Dengan suara rendah dan setengah berbisik si Utusan Penyabut Nyawa Ma Ching-san segera berkata, "Hujien
telah meninggalkan markas besar menuju kemari, malam nanti ia mengajak heng tay untuk berjumpa dikuil It Hoa Thian-hong segera mengerutkan sepasang alisnya kemudian tertawa.
"Bila kejadian ini berlangsung pada. setengah tahun berselang, sekalipun telaga naga atau sarang harimau siauwte berani untuk mengunjunginya….tapi sekarang,….."
"Thian-hong heng. kau telah Salah menduga" buru-buru si Utusan Pencabut Nyawa Ma Ching-san goyangkan
tangannya berulang kali."Hujien adalah bermaksud baik terhadap dirimu dan sedikitpun tidak Untuk mencelakai
diri heng tay, lagipula kuil It Goan Koan yang begitu kecil masa sanggup Untuk mengurung Heng tay yang begitu
lihay"
Mendadak terdengar gelak tertawa yang amat nyaring berkumandang datang.
"Haaah…. haaah…. Ma-heng, kenapa kau musti sungkan2, siapa yang tidak tahu kalau si-Utusan Pencabut Nyawa dari perkumpulan Tong-thian-kauw selamanya membunuh orang tanpa menggunakan golok, tapi cukup menggepal tangannya saja"
Dengan cepat si Utusan Pencabut Nyawa Ma Chingsan putar kepalanya dan menuding ke arah orang itu dengan kipasnya sambil memaki, "Soen Loo-ko kau sebagai petugas terima tamu dari perkumpulan Hong-im hwie, kenapa bersikap begitu kasar dan tidak bersahabat terhadap diri siauwte?"
Orang she Soen itu adalah seorang kakek tua yang berperawakan tinggi dan kurus. Sementara itu sambil tertawa terbahak bahak menyapa diri Hoa Thian-hong
kemudian duduk dihadapan mukanya.
Hoa Thian-hong tersenyum, tiba-tiba ia menjura ke arah seorang kakek berwajah merah padam yang tanpa menimbulkan sedikit surapun menguntil dibelakang
kakek she-Soen tadi serunya, "Tang Loo Hu-hoat, wajahmu nampak berseri2 dan kegirangan, karena urusan apa sin?
"Haaah….haaah…….haaah…. "Kakek berwajah merah she Tang itu tertawa terbahak-bahak, dari sakunya dia
ambil keluar sebuah sampul surat kemudian sambil diangsurkan ke depan katanya, "Hoa-heng, coba lihat. dari tempat jauh telah melayang tiba sebuah berita kegirangan, apakah tidak sepantasnya kalau aku ikut bergembira bagi diri Hoa-heng?"
Hoa Thian-hong menerima surat tersebut, tiba-tiba si Utusan pencabut nyawa Ma Cing San yang ada disisinya menyerobot surat itu dari samping, kemudian sambil
mengeluarkan isi sampul itu dibacanya, "Hari ini aku tiba, sambutlah kedatanganku di Lan-Hong. tertanda: Pek." Hoa Thian-hong miringkan kepalanya ikut melihat isi
surat itu, terlihatlah oleh nya dibawah rentetan huruf yang sangat indah tadi tertera sebuah cap yang merupakan rangkaian huruf: Kun-gie dua patah kata.
Si-Utusan Pencabut Nyawa Ma Ching-san segera angsurkan kembali surat itu ke tangan Hoa Thian-hong,
lalu sambil alihkan sinar matanya ke arah kakek berwajah merah itu tegurnya, "Tang-heng, apakah surat itu benar-benar
ditulis sendiri oleh nona Pek Kun-gie dari
perkumpulanmu?"
"Haah….haah….haah…." sambil mengelus jenggotnya kakek berwajah merah itu tertawa targelak. "Siapa yang mempunyai batok kepala cadangan? aku sih tak berani
memalsukan namanya"
"Tang-heng" si kakek she-Soen, penerima tamu dari perkumpulan Hong-im-hwie berseru dengan pura-pura tertegun. "Bukankah nona Pek mengirim Surat itu kepada kantor Cabangnya agar semua anak buahnya yang hadir sama-sama menyambut kedatangannya, mau apa kau
serahkan surat itu kepada diri Hoa-heng?'
Kembali si kakek berwajah merah itu mendongak dan tertawa terbahak-bahak.
"Nona Pek kami ini adalah seorang perempuan yang berwatak aneh dan bercita-cita tinggi, semua tindak tanduknya dilaksanakan dengan andalkan ilmu silat serta kecerdikannya, belum pernah ia gunakan kedudukannya sebagai putri kesayangan Pangcu untuk memerintah kami, apalagi memerintahkan anak buahnya untuk menyambut kedatangannya, sekalipun dia ada maksud
begitu pun tak nanti akan menulis surat sendiri."
Habis berbicara ia tertawa terbahak-bahak, kemudian meneguk secawan air teh dan pejamkan matanya tidur yaman di atas kursi.
Si Utusan Pencabut nyawa Ma Ching-san yang menyaksikan akan hal itu, sepasang alisnya kontan berkerut. kepada Hoa Thian-hong serunya dengan suara aneh, "Hoa-heng, kau sudah dengar belum? tindak tanduk nona Pek selamanya diandalkan pada kecerdikan serta kelihayan ilmu silatnya, lebih baik kau cepat-cepat berangkat dan perjalananmu dilakukan sedikit lebih cepat, kalau kedatanganmu terlambat bisa jadi batok
kepalamu akan lenyap dan berpisah dari badanmu"
Hoa Thian-hong tersenyum, ia merobek surat itu hingga hancur berkeping-keping, kemudian pikirnya di dalam hati, "Ini hari sudah bulan Lak-Gwee, sekalipun perjalanan ibu sangat lambat semestinya ia sudah harus tiba di kota Cho-Chiu, kenapa bayangan tubuhnya masih
belum juga nampak? Aaaai….. Apakah di tengah jalan ia telah menemui kesulitan? Aaaah. Tidak mungkin, pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki orang tua
itu sangat luas, lagipula mengetahui segala macam akal licik yang sering dipakai oleh orang Bulim, kawanan kurcaci biasa tidak nanti bisa mengapa-apakan beliau….."
Memikirkan tentang keselamatan ibunya, pemuda itu merasa pikirannya amat kalut dan hatinya risau hingga tanpa terasa di atas wajahnya nampak murung dan
gelap.
Mendadak terdengar si Utusan Pencabut nyawa Ma Ching-san tertawa terbahak bahak lalu berkata, "Thianhong Heng, nona Pek suruh kau menyambut kedatangannya, kejadian ini benar-benar merupakan suatu kehormatan serta kebanggaan bagimu, bisa berjumpa dengan kaum enghiong itulah kesenangan bagi
orang kangouw, tapi awas…. kau jangan
berayal terus, malam ini sebelum kentongan ketiga lebih baik berangkatlah lebih dulu.
Mari…..mari….mari…. mumpung sekarang tak ada urusan, siauwte ingin menantang dirimu untuk main catur" bicara sampai disitu ia segera menoleh dan berteriak keras, "Pelayan siapkan papan catur dan biji catur"
Petugas penerima tamu dari perkumpulan Hong-imhwie serta Tang Hu-Hoat dan perkumpulan Sin-kie-pang sama-sama tidak mengerti akan permainan catur, mendengar mereka mau bermain catur, sepasang mata kedua orang itu kontan mendelik besar.
Kakek tua berwajah merah she-Tang itu sambil busungkan dada segera berseru keras, "Ma-heng, nanti malam Hoa-heng masih harus melakukan perjalanan.
bagaimana kalau kau biarkan dia pergi beristirahat sebentar?"
"Betul" seru kakek she-Soen pula sambil tertawa.
"Lebih baik kita kongkouw disini saja kan lebih enak daripada main catur. Ee eeei…. Ma-heng kemarin malam kau menikmati sorga dunia di rumah pelacur mana?
apakah sudah menemukan barang baru? jangan lupa bagi-bagi kepada rekan rekanmu Iho….."
Sret Si Utusan pencabut nyawa Ma Ching-san merentangkan kipasnya dan digoyangkan beberapa kali, kemudian dengan nada ogah-ogahan menjawab,
"Tentang soal ini, sebetulnya Siauwte tidak ingin banyak berbicara…." ia merandek sejenak, lalu tambahnya, "Tetapi kalau memang Soen-heng mengajukan pertanyaan itu, siauwte merasa tidak enak untuk merahasiakannya,"
Bersambung
Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network
No comments:
Post a Comment