Wednesday, December 25, 2013

Bara Maharani - 50

Bara Maharani
Karya : Khu Lung
diterjemahkan oleh Tjan Ing Djoe
JILID 10 : Kecintaan Chin Wan Hong

Selesai berlarian, pemuda itu merasa semangat serta tenaganya masih segar bugar maka iapun diiringi semua orang berpindah menuju kelapangan untuk berlatih silat.
Pertama2 ia berlatih lebih dahulu jurus serangan yang ampuh "Koen-Sioe-Ci-Tauw" kemudian Biauw-Nia Samsian
maju mengerubuti dirinya. latihan berlangsung dengan seru dan riangnya.
Setengah harian kemudian tiba-tiba ia teringat kembali akan Tiong-si Sam Houw yang jarang ditemui, ia tak tahu bagaimanakah hasil latihan ilmu pukulan dari ketiga orang itu, maka dipaksanya ketiga orang itu untuk berlatih dihadapannya.
Salama ini Tiong-si Sam Houw selalu melayani Hoa Thian-hong dengan sikap pelayan terhadap majikan,
Walaupun si anak muda itu tak mau tapi lama kelamaan tanpa terasa hal itu jadi suatu kebiasaan.
Mendengar pemuda itu menyuruh mereka berlatih, tanpa banyak bicara ketiga orang itu segera mainkan ilmu telapaknya dengan sungguh2.
Setelah dilihatnya permainan ilmu telapak mereka sangat hapal dan tenaga dalamnya bisa diandalkan, girang sekali pemuda kita.
Mendadak terdengar Chin Wan Hong berseru, "Siauw Long, suhu telah mewariskan serangkaian ilmu barisan
kepada mereka. barisan itu dinamakan Sam Sing Boe Khek Tin Hoat'
Barisan Sam Seng Boe Khek Tin?" ujar Hoa Thianhong terkejut bercampur girang." Coba mainkanlah agar aku lihat."
"Ilmu barisan yang diajarkan Sin Nio kepada kami ini amat kacau dan rumit" kata si harimau pelarian Tiong Liauw sambil tertawa jengah. "Sedang kami bertiga amat bodoh, sekalipun dengan paksa bisa hapal tapi kalau di mainkan kurang lebih sempurna."
Selesai bicara ia segera beri kode dan ketiga orang itu menyebarkan diri menduduki posisinya masing-masing,
ilmu barisan Sam Seng Boe-Khek-Tin pun dengan cepat sudah dimainkan.
Dengan penuh seksama Hoa Thian-hong
memperhatikan perubahan-perubahan dari barisan itu, kemudian pikirnya di dalam hati, "Ooh, rupanya sebuah barisan yang mengutamakan pertahanan bersama serta
penyerangan serentak, bila mereka bertiga berhasil, menguasainya memang banyak manfaat yang bakal didapatkan."
Mendadak satu ingatan berkelebat di dalam benaknya, segera ia berseru, "Enci Hong, ini hari bulan apa tanggal berapa?"
"Udara di dalam lembah Hoe-Hiang-Kok hangat dan nyaman laksana musim semi, cuaca sama sekali tidak mengalami perubahan. aku sendiripun sudah melupakan hari dan tanggal."
Dengan berdandan sebagai gadis suku Biauw, gerak-geriknya yang halus disertai wajah yang malu menimbulkan suatu rangsangan yang aneh bagi kaum
pria. Terdengar Lie Hoa Siancu yang berdiri disisi mereka menyahut sambil tertawa, "lni hari bulan sepuluh tanggal
tujuh belas, kenapa sih kau mendadak menanyakan hari dan tanggal?"
"Aduh celaka" teriak Hoa Thian-hong dengan hati terkejut. "Aku telah melupakan hari dan tanggal. aku harus segera berangkat untuk pulang ke rumah….."
Habis bicara ia putar badan dan lari.
Melihat perbuatan si anak muda itu semua orang segera mengejar dari belakang, Lan-Lan enjotkan badannya melayang ke tengah udara dan menyusul kehadapannya, sambil tertawa ia segera menegur, "Coba lihat tampangmu yang gugup dan tergopoh-gopoh tidak macam orang, sekalipun sudah melupakan tanggal,
pulang ke rumah terlambat beberapa haripun rasanya tidak mengapa kan?"
"Tidak bisa jadi ibu sedang berharap-harap akan kedatanganku di atas gunung."
Sementara pembicaraan masih berlangsung tubuhnya telah menyusup ke dalam gua dan langsung menghadap
Kioe-Tok Sian-Cie, sambil berlutut di atas tanah ujarnya,
"Sian-Nio. aku telah melupakan tanggal dan. hari untuk pulang ke rumah, sekarang juaku harus mohon diri kepada Sian-Nio untuk turun gunung"
Sambil tersenyum Kioe-Tok Sian-Cie membimbingnya bangun dari atas tanah, lalu berkata, "Anak baik, kau sudah melupakannya selama berapa hari? kecuali
menyusahkan ibumu yang harus menanggung rindu apakah kau telah menelantarkan urusan lain?"
"Aku tak boleh menyusahkan ibu hingga beliau harus menanggung rindu tecu sekarang juga harus berangkat
untuk pulang ke rumah"
Kembali Kioe-Tok Sian-Cie tertawa.
"Sekalipun terburu-buru juga tak perlu berangkat sekarang juga, lebih baik tunggu sampai besok pagi saja, asal perjalanan dilakukan dengan lebih cepat bukankah sama saja?"
Ia merandek sejenak lalu melirik sekejap ke arah Chin Wan Hong yang berada di belakang tubuhnya, lalu menambahkan, "Hubungan serta cinta kasih para cici
terhadap dirimu tidak jelek, sebelum berangkat berilah salam perpisahan kepada mereka semua dan tetapkan
juga waktu untuk saling berjumpa dikemudian hari."
Hoa Thian-hong mengiakan tiada hentinya kemudian mengundurkan diri, semua orangpun segera berkumpul di dalam kamarnya Chin Wan Hong.
Sore itu dilewatkan dalam suasana murung dan sedih karena harus berpisah, malamnya semua orang menyiapkan sebuah perjamuan untuk menghantar
keberangkatan si anak muda itu.
Selesai bersantap Hoa Thian-hong serta Chin Wan Hong sambil bergandengan tangan mencari angin di dalam kebun bunga, mereka saling mengutarakan isi hati dan melewatkan malam yang panjang dengan kemesraan dan penuh kasih sayang.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Hoa Thian-hong telah minta diri kepada Kioe-Tok Sian-Cie, dengan diantar oleh "Biauw-Nia-Sam-Sian" serta Chin Wan Hong sekalian berangkatlah pemuda itu keluar lembah, perpisahan itu dirasakan amat berat sekali terutama setelah bergaul
amat lama dan dihati masing-masing telah timbul perasaan persahabatan yang kental, diantara beberapa orang Chin Wan Hong yang merasakan paling berat, sepanjang perjalanan ia berpesan tiada hentinya sambil mengucurkan air mata, jelas nampak di atas wajahnya
bahwa ia merasa berat hati untuk berpisah dengan kekasihnya.
Hoa Thian-hong sangat merindukan keadaan ibunya, setelah keluar dari barisan Hoa-Hiang-Tin, iapun keraskan hati untuk berpisah dengan semua orang dan
melakukan perjalanan dengan cepat.
Keinginannya untuk pulang ke rumah amat besar, sepanjang perjalanan ia berlarian terus baik siang maupun malam, terutama sekali setiap tengah hari telah tiba dan racun teratai dalam tubuhnya mulai kambuh, ia berlari jauh lebih cepat dari kuda jempolan, kendati badannya terasa agak tersiksa namun perasaannya jauh
lebih gembira dan lega.
Hoa Thian-hong pada saat ini sudah bukan Hong-po Seng tempo dulu, sekalipun usianya belum mencapai delapan belas tahun tetapi perawakan tubuhnya sudah tinggi kekar, wajahnya tampan dengan alis yang tebal. terutama sepasang matanya yang menyorotkan cahaya tajam menandakan bahwa tenaga lweekangnya telah memperoleh kemajuan yang amat pesat.
Ibunya berdiam jauh di daerah utara, dari arah Barat daya menuju ke arah Barat-laut ia harus melakukan perjalanan ber-puluh2 ribu li jauhnya. tetapi dikarenakan
wajahnya telah berubah dan perjalanan dilakukan sangat cepat, wilayah kekuasaan perkumpulan Sin-kie-pang
serta Hong-im-hwie berhasil dilalui tanpa menimbulkan sedikit persoalanpun,
Siapa tahu ketika dengan susah payah ia berhasil tiba di rumah, yang ditemui hanya sebuah bukit yang kosong, ibunya entah sudah pargi kemana. di dalam rumah
nampak tertinggal secarik kertas yang berbunyi.
"Surat ini ditujukan kepada Hong-jie, "Sudah lama kunantikan kepulanganmu ke rumah tapi kau tak kunjung tiba. maka kuambil keputusan untuk mencari jejakmu di dalam dunia persilatan, setelah membaca surat ini berangkatlah ke kota Cho-Chiu untuk berjumpa."
Hoa Thian-hong jadi amat gelisah, dihitung dari tanggal di atas surat ia mengetahui bahwa ibunya sudah hampir satu bulan turun gunung, maka tergopoh-gopoh
ia turun gunung dan langsung mengejar ke kota Cho-Chiu,
Sepanjang perjalanan ia berusaha menemukan jejak ibunya tetapi hingga tiba di kota Cho-Chiu bayangan tubuh ibunya belum nampak juga.
Diam-diam iapun mengambil kesimpulan, dengan keadaan ibunya yang lemah dan tenaga dalamnya yang sudah musnah kecepatan kakinya tak akan lebih cepat
dari orang yang mengerti ilmu silat, ditambah pula perjalanan. harus dilakukan dengan tersembunyisembunyi, tentu saja perjalanannya makin lambat lagi.
Ia sadar seandainya bukan saling bertemu muka secara kebetulan sulit untuk menemukan kabar beritanya maka akhirnya dia mengambil keputusan untuk berdiam di kota Cho-Chiu untuk menantikan kedatangan ibunya, daripada kedua belah pihak saling bersisipan dan tak bisa bertemu.
Kota Cho Ciu nampak amat gerah dari ramai sekali Kota ini mempunyai tiga kelebihan yakni banyaknya perusahaan Piauw-Kiok, banyaknya rumah makan dan
warung Serta banyak nya rumah pelacuran dan panggung opera.
Berhubung kolong langit dibagi jadi tiga kekuasaan maka para perusahaan Piauw kiok menjadikan kota Cho Chiu sebagai titik pertemuan, para pedagang dari empat
penjuru kebanyakan membongkar dan membuat barang2 dagangannya di kota ini, karena itu perusahaan ekspedisi yang bermunculan disitU banyak bagaikan jamur di musim hujan. dengan sendirinya rumah makan serta rumah pelacuranpun ikut bermunculan disana sini dengan ramainya.
Kota Cho Chiu juga merupakan satu2nya kota bebas dari kekuasaan tiga golongan kekuasaan Bulim, kota itu tidak termasuk dalam wilayah perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie maupun Tong-thian-kauw, tatapi mereka semua menaikan cabang2 kantornya di tempat itu.
Sebuah bangunan besar di sudut utara kota merupakan kantor cabang dari perkumpulan Hong-imhwie, kantor cabang dari perkumpulan Sin-kie-pang berada di sudut Barat, sedangkan sebuah kuil yang besar dan megah dikenal dengan nama "It-Goan" di sudut kota sebelah Tenggara merupakan kantor cabang dari perkumpulan Tong-thian-kauw. kantor-kantor cabang itu saling, berhadap hadapan dengan mengambil posisi dari
wilayah kekuasaan mereka masing-masing.
DALAM kota Cho Chiu sering kali memunculkan manusia-manusia Bulim dengan badan yang kekar, alis yang tebal dan wajah yang bengis, percekcokan saling terjadi dan perkelahianpun sudah merupakan suatu kebiasaan, tetapi di daerah sekitar sana jarang sekali
terjadi pembunuhan, sebab bila ada seseorang terbunuh maka dari ketiga belah pihak mengirim orang untuk
melakukan penyelidikan, pembunuhnya jarang sekali dapat meloloskan diri dari pengejaran mereka.
Bila malam telah tiba. kota Cho Chiu bermandikan cahaya lampu yang terang benderang, rumah makan penuh sesak dengan manusia, di atas panggung berisik
dengan suara tambur dan gembrengan sedang di rumah pelacuran penuh lengking seruan lirih dan tertawa cekikikan, hingga fajar menyingsing suasana ramai itu
baru reda.
Oleh sebab itulah setiap tengah hari suasana di kota itu amat sunyi dan sepi, disamping itu daerah sekitar sana seringkali bermunculan banyak orang dengan wajah yang asing, mereka yang bertemu dengan manusia-manusia tersebut kebanyakan lenyap tak berbekas dan tiada kabar beritanya lagi.
Tepat dihadapan kantor cabang perkumpulan Hong im-hwie berdiri sebuah warung teh yang tidak besar pun tidak kecil, pagi itu dari pintu luar berjalan masuk seorang pemuda berwajah tampan dan beralis tebal, dia adalah Hoa Thian-hong.
Saat itu badannya jauh lebih kekar dan sorot matanya semakin tajam, gerakan tubuhnya enteng dan ringan, bagi mereka yang ahli sekilas memandang segera akan
mengetahui bahwa ia merupakan seorang ahli silat yang memiliki tenaga dalam amat sempurna.
Di dalam kenyataan kehadiran Hoa Thian-hong di kota Cho Chiu telah diketahui oleh semua pihak yang berkuasa disana, hanya tak seorangpun yang tahu siapakah gerangan pemuda itu.
Ketika pelayan menyaksikan kemunculan pemuda itu, buru-buru lari menyambut kedatangannya sambil menyapa, "Hoa-ya, selamat pagi"
Hoa Thian-hong mengangguk dan langsung naik keloteng, di sudut sebuah jendela ia memilih tempat dan duduk.
Bersambung
Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network







No comments:

Post a Comment