Wednesday, January 1, 2014

Bara Maharani - 57

Bara Maharani
Karya : Khu Lung
diterjemahkan oleh Tjan Ing Djoe
JILID 11 : Giok Teng Hujien

Giok Teng Hujien meskipun telah disebut nyonya, namun usianya masih muda belia hanya saja sikapnya yang jauh lebih dewasa serta tingkah lakunya yang Hot
mendatangkan daya rangsang yang lebih besar dari sekawanan gadis lain. Hoa Thian-hong adalah seorang pemuda dengan darah panas, setelah berbaring dalam jarak yang begini dekat apalagi kulit harus bergerak dengan kulit, lama
kelamaan terpengaruh juga oleh nafsunya hingga tak sanggup menguasai diri.
Tetapi… bagaimanapun ia adalah seorang pemuda luar biasa yang lain daripada yang lain, terutama sekali pendidikan moral yang tinggi dari ibunya semenjak kecil membuat dia dengan cepat menyadari akan ketidakbenarannya.
Dengan cepat pemuda itu bangkit berdiri sambil berseru, "Hujien, jauh2 datang kemari kau adalah Seorang tamu, cayhe sampai lupa untuk menghidangkan air teh"
"Kenapa sih musti bertindak macam segala tetek bengek itu?" tukas Giok Teng Hujien sambil tertawa, ia segera rangkul kembali tubuh si anak muda itu sambil ditarik untuk berbaring kembali. "Terhadap diriku, kau tak usah sungkan-sungkan"
Wajah Hoa Thian-hong berubah semakin merah.
"Hujien, racun dari Teratai empedu api masih bersarang di dalam pusarku…"serunya.
"Hiiih….hiiih….hiiih…"Giok Teng Hujien kontan tertawa cekikikan, sambil mengerling tajam serunya, "Eeei. setan
cilik cici hanya ingin berbicara saja, aku tak mau minum teh juga tak mau ajak kau untuk……"
"Pada saat itulah, tiba-tiba dari halaman luar berkumandang datang suara nyanyian. nyaring yang tajam dan lantang. suara itu segera memenuhi seluruh
angkasa dan berdengung tiada hentinya:
"Rambut mega Rambut embun lebih indah dari kumpulan gagak,
Memperlihatkan kaki yang indah dari balik gaun berwana merah,
Tapi lebih indah bunga liar di luar dinding jendela,
Kumaki kau bagaikan seorang penghibur lelaki yang murah,
Setengah bagian susah dilayani setengah
mempermainkan."
Baik lagu tersebut walaupun banyak orang yang bisa menyanyikan, tetapi kemunculan yang sangat kebetulan
itu cukup mendatangkan suasana yang aneh bagi kedua orang muda-mudi itu.
Hoa Thian-hong segera tahu bahwa tingkah lakunya telah diketahui oleh orang lain yang mangintip dari luar jendela, air mukanya seketika itu juga berubah jadi merah padam, dengan tersipu2 ia segera loncat turun dari atas pembaringan.
Mula2 Giok Teng Hujien nampak tertegun, tapi dengan cepat ia menjadi tenang kembali. Dengan senyuman dikulum ia dengarkan nyanyian itu hingga habis
kemudian. Perlahan-lahan turun dari pembaringan dan menengok keluar jendela, sikapnya aras2an seperti badannya sama sekali tak bertenaga.
Tampak suasan diluar halaman tetap sunyi senyap tak nampak sesosok bayangan manusiapun, kecuali Soet jie si makhluk aneh itu tetap melingkar dibawah jendela,
tiada sesuatu pertanda apapun ada disitu.
Hoa Thian-hong yakin bahwa ketajaman penglihatan serta pendengarannya masih bisa dipertanggung jawabkan, maka ketika dilihatnya suasana di halaman luar sunyi senyap tak nampak sesosok bayangan
manusiapun, ia segera sadar bahwa si penyanyi itu sudah berlalu. Dalam hati segera pikirnya, "Entah siapakah orang itu? Kecepatan geraknya benar-benar mengagumkan sekali, bukan saja menyerupai sukma gentayangan bahkan sama sekali tidak meninggalkan sedikit jejakpun"
Dalam pada itu Giok Teng Hujien telah membopong Soat-jie makhluk anehnya sambil berbisik, "Siapa sih tadi yang ada diluar halaman? Ayoh kita kejar dirinya sampai dapat."
Sudah dua kali Hoa Thian-hong berjumpa dengan perempuan yang menamakan dirinya Giok Teng Hujien ini, tapi baru pertama kali ini ia menjumpai perempuan
itu berbicara dengan wajah kaku, sementara hatinya masih tertegun terasalah pandangan matanya jadi kabur,
makhluk aneh bernama Soat-Jie itu sudah berkelebat menuju ke pintu kebun disamping kiri dan lenyap dibalik kegelapan.
Giok Teng Hujien segera menoleh dan tertawa, ketika dijumpainya Hoa Thian-hong masih berdiri dengan wajah terkejut ia lantas berseru, "Eeei .. pemuda tampan, mari ikutlah cici, aku telah memerintahkan Soat-jie untuk menangkap bajingan tersebut bagimu"
Dalam hati Hoa Thian-hong memang berharap begitu, maka dengan senang hati ia segera menyetujui ajakan tersebut. Baru saja badannya hendak loncat keluar dari dalam kamar, tahu-tahu tangannya sudah digenggam oleh perempuan itu dan diajak melayang keluar dari kamar.
Baru saja tubuh mereka berdua melayang keluar dari pintu kebun, mendadak dari tempat kejauhan terdengar suara ringkikan kuda dan teriakan manusia
berkumandang datang, buru-buru mereka segera memburu kesitu.
Sebelum tubuh mereka tiba di tempat tujuan, telinga mereka telah menangkap suara desiran tajam yang menderu deru, diikuti teriakan gusar seseorang dengan
suara yang serak dan nyaring berkumandang memenuhi seluruh angkasa, "Rase sialan kuhajar kau sampai
mampus Rase terkutuk … kuhancurkan tubuhmu…….."
Sejak tadi Hoa Thian-hong sudah dibikin terkejut dan diliputi keragu-raguan, sedangkan Giok Teag Hujien sewaktu mendengar dengusan-dengusan gusar dari Soat-Jie makhluk aneh itu, di dalam hati iapun merasa terkejut: cepat-cepat badannya berkelebat ke depan, dalam waktu singkat bersama Hoa Thian-hong ia sudah tiba di istal kuda.
Tampaklah beberapa orang pelayan sedang
berjongkok di sudut tembok dengan badan gemetar, kuda yang berada di istal meloncat loncat dan meringkik panjang tiada hentinya.
Di sudut sebelah lain tampaklah seorang kakek tua berbadan kurus tinggi dan berwajah hijau membesi sedang mainkan sebilah pedang lemas sepanjang empat
depa di tangan kanannya, lima buah roda berwarna keemas-emasan di tangan kirinya untuk melindungi seluruh tubuhnya dari sergapan maut si makhluk aneh
tersebut.
Sedangkan Soat-Jie dengan menciptakan diri jadi sesosok bayangan putih yang samar melancarkan tubrukan maut tiada hentinya ke arah si kakek tua itu.
Di sudut lain, tampak seorang pria berjubah putih menggeletak di atas tanah dengan badan penuh luka berdarah, pakaiannya koyak-koyak dan raut mukanya susah dikenali lagi karena boleh dibilang sudah hancur sama sekali.
Diam-diam Hoa Thian-hong merasa hatinya tercekat Juga setelah menyaksikan pemandangan yang terbentang di depan matanya saat ini, bulu kuduk tanpa terasa pada bangun berdiri. pikirnya: Tidak aneh kalau perempuan itu berani bicara sesumbar dengan mengatakan bahwa dua orang jago lihay macam Cia Kim pun tak akan sanggup menandingi Soat-jie nya kalau ditinjau dari ilmu silat yang dimiliki si kakek tua ini jelas jauh di atas kepandaian Cia Kim, tetapi. Haruslah diketahui si kakek kurus kering itu sekaligus telah menggunakan dua macam senjata aneh yang berbeda
satu sama lainnya dimana seluruhnya berjumlah enam buah Pedang lemas adalah sebuah senjata yang sulit digunakan sementara Ngo-Heng-Loen di tangan kirinya terdiri dari lima buah roda yang beratnya rata-rata di atas enam puluh kati, bilamana seorang tidak memiliki
gerakan tangan yang lincah serta tenaga lwekang yang0amat sempurna untuk mengimbangi penggunaan senjata pedang yang enteng dan senjata roda yang berat, jelas tak mungkin sanggup untuk mempergunakan senjata tersebut. Atau dengan perkataan lain si kakek tinggi jelas
memiliki kedudukan yang amat tinggi di dalam dunia persilatan
Tampaklah Giok Teng Hujien tertawa hambar lalu berseru, "Aku kira siapa yang berani ajak aku untuk bergurau, kiranya Pelindung Hukum Utama dari perkumpulan Sin-K-ie Pang yang telah tiba"
"Giok Teng Hujien" seru si kakek kurus kering itu.
"Dibalik kejadian ini sebenarnya masih terselip persoalan lain….."
Sepasang tangannya harus bekerja keras memainkan pedang serta senjata godanya, sedang sepasang matapun dengan tajam menatap terus bayangan putih yang menerjang datang tiada hentinya itu tanpa berkedip, maka untuk mengucapkan dua patah kata yang
sikap ia membutuhkan waktu yang amat lama sekali, Giok Teng Hujien tertawa dingin, ia merandek sejenak kemudian secara tiba-tiba memperdengarkan siulan
nyaring yang panjang.
Begitu mendengar siulan tersebut, Soat-jie si makhluk aneh itu segera menghentikan tubrukannya dan mendekam di atas tanah tanpa bergerak barang sedikitpun jua, sepasang matanya yang berwarna merah
darah menatap terus wajah si kakek kurus kering itu tanpa berkedip: seakan-akan ia takut kalau mangsanya itu kabur.
"Traaaak…." ditengah dentingan nyaring, kelima buah senjata roda itu menumpuk menjadi satu dan melayang balik ke tangan kakek tua itu.
Walaupun begitu jelas terlihat bahwa seluruh tubuh kakek kurus itu sudah basah kuyup oleh keringat, napasnya tersengal-sengal dan dapat didengar dengan amat jelas.
"Ciat Tiang Hong" jengek Giok Teng Hujien dengan nada ketus. "Bukankah kau mengatakan bahwa dibalik persoalan ini masih terselip masalah lain? Mengapa tidak kau ucapkan keluar?"
"Orang yang menyanyikan lagu itu adalah orang lain,
Makhluk aneh milik hujien ini meskipun pandai bertempur tapi belum mampu untuk membedakan mana yang benar
dan mana yang salah"
Sekalipun baru saja lolos dari bahaya maut, tapi nada ucapannya tajam dan jumawa sedikitpun tidak ada maksud untuk mengalah Tidak malu ia duduk sebagai seorang Pelindung Hukum terutama dari perkumpulan Sin-kie-pang,
Giok Teng Hujien mendengus dingin sinar matanya segera dialihkan ke arah pria berbaju putih yang menggeletak di atas tanah, setelah menarik sekejap ke
arahnya ia lantas menegur:"Siapakah orang ini? apakah dia yang menyaksikan bait lagu tadi?.,.."
"Saudara ini adalah seorang sahabat dari perkumpulan Hong-im-hwie, maaf kalau loohu tidak bisa mengatakan kejelekan orang lain" jawab kakek kurus itu makin ketus.
Terdengarlah pria berbaju putih yang menggeletak di atas tanah itu merintih dan berkata; "Bait lagu itu bukan cayhe yang nyanyikan….."
Rupanya ilmu silat yang dimiliki orang ini agak cetek maka tubuhnya tercakar oleh Soat-Jie hingga menderita luka yang amat parah, ketika itu dia sama sekali tak
sanggup untuk bangkit berdiri.
Sepasang alis Giok Teng Hujien segera berkerut kencang,serunya dengan nada yang dingin, "Sekalipun bait lagu itu bukan kalian yang menyanyikan, tetapi seandainya kau tidak mengintip dan mengawasi diriku dari tempat kegelapan, Soat jie kau juga tak akan mencari kalian tanpa alasan. Hmm. kau tidak ingin dicurigai maka lebih baik segera menyingkir dari sini, jelas kalianlah yang tidak pandang sebelah matapun terhadap diriku. Soet Jie terjang dia…."
Soet Jie benar-benar amat cerdik dan mengerti akan bahasa manusia, ketika Giok Teng suruh ia berhenti bertarung ia segera berhenti, sekarang setelah diberi
perintah untuk menyerang iapun segera maju menyerang.
Begitu perintah terakhir dari perempuan itu meluncur keluar dari bibirnya, Soet jie segera menjerit aneh dan menubruk kembali ke depan.
Si-kakek kurus kering itu jadi terkejut bercampur gusar. Sreeet Senjata Ngo Hoen-Loen nya segera direntangkan untuk melindungi tubuhnya dari ancaman lawan, sementara pedang lemasnya dimainkan dengan rapat disekeliling tubuhnya, terlihatlah bayangan pedang menggulung dan mengelilingi seluruh badannya tanpa
meninggalkan sedikit peluangpun bagi lawannya untuk menyarangkan cakarnya ke atas tubuhnya.
Untung kakek kurus itu cukup cerdik dan berdiri di sudut tembok, dalam posisi yang begini ia hanya cukup berjaga jaga terhadap serangan yang datang dari depan,
Meskipun tubrukan dan terjangan Soat-jie cepat laksana kilat tapi dalam keadaan begini daya kekuatannya berkurang juga, seandainya ditanah lapang yang luas,
sejak tadi mungkin kakek tua itu sudah kewalahan.
Tiba-tiba tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, si Utusan pencabut nyawa Mo Ching San meloncat masuk dari luar dinding pekarangan,
setelah memberi hormat katanya, "Hujien jangan gusar, hamba ada urusan hendak memberi laporan"
Giok Teng Hujien bersiul memanggil kembali makhluk aneh Soat Jie untuk mundur kesisi tubuhnya, lalu sambil
tertawa dingin makinya, "Heeeh…. heeeh…. heeeeeh, bagus, kau tentu sudah lari amat .iauh bukan?"
Sekujur badan Ma Ching-san si utusan pencabut nyawa itu seketika gemetar keras buru-buru sahutnya,
"Hamba tidak berani melalaikan tugas yang telah dibebankan pada pundak hamba… " ia menghembuskan napas panjang dan meneruskan. "Hamba tidak berani berdiri di tengah halaman .."
"Bicara sesingkatnya Saja" tukas Giok Teng Hujien.
"Ketika hamba bertugas diluar dinding tembok mendadak kudengar ada orang sedang menyanyi di dalam halaman. karena takut nyanyian itu mengganggu
ketenangan hujien maka aku siap masuk ke dalam untuk melakukan pemeriksaan, pada saat itulah secara tiba-tiba dari pintu belakang berjalan keluar seorang kakek tua dengan langkah yang seenaknya. Karena wajahnya terasa asing maka hamba segera melakukan pengejaran, siapa tahu kakek tua itu licik sekali setelah mengitari halaman ini dua lingkaran mendadak bayangan tubuhnya lenyap tak berbekas."
Dalam waktu singkat ia telah berbicara sampai disitu, mendadak selanjutnya ia jadi gelagapan dan tak sanggup meneruskan kembali kata-katanya.
Ma Ching-san tahu, ia pasti sudah jatuh kecundang di tangan maka tak berani meneruskan kembali katakatanya, ditinjau dari sikapnya yang begitu ketakutan
tanpa terasa pemuda itu segera berpikir, "Aku mengira Hujien ini cuma kukoay dan genit, ternyata semua anggota perkumpulan Tong-thian-kauw begitu ketakutan menghadapi dirinya, ia pastilah seorang yang lihay"
Sementara itu Giok Teng Hujien telah bertanya,
"Macam apakah si kakek tua itu? apakah kau berhasil memperhatikan raut wajah serta potongan tubuhnya?"
"Dia adalah seorang kakek yang pendek dan gemuk" jawab Ma Ching-san dengan amat hormat. "Wajahnya berwarna merah memancarkan sinar terang, kepalanya
botak dan jenggotnya pendek. pakaian yang dikenakan terbuat dari kain kasar, sedangkan di tangannya membawa sebuah kipas bulat yang besar"
Mendengar laporan itu Giok Teng Hujien tundukkan kepala dan berpikir sebentar, tiba-tiba ia mendongak dan melotot sekejap ke arah Hoa Thian-hong dengan
pandangan gemas.
"Beeei…Kenapa sih Hujien melotot wajahku? apa salahnya cayhe?" Teriak Hoa Thian-hong dengan cepat.
"Huuuh orang itu bukan anggota perkumpulan Sinkie- pang, Hong In Hwie maupun Teng Thian Kauw"
"Lalu kenapa?"
"Itu berarti bahwa orang itu adalah manusia dari pihakmu"
Hoa Thian-hong melengak, tapi dengan cepat ia berseru, "Kalau memang dia adalah kawan cayhe, biarlah aku segera pergi mencari dirinya."
Sesudah menjura ia segera putar badan dan berlalu dari situ.
Giok Teng Hujien segera tertawa cekikikan, lengannya diulur ke depan tahu-tahu Soat jie sudah menyusup ke dalam gendongannya. Tampaklah pinggangnya yang ramping bergerak dan di dalam waktu singkat ia sudah mengejar ke sisi si anak muda itu untuk berjalan
berdampingan dengan dirinya sikap tersebut seakanakan menganggap di sekitar sana tak ada seorang
manusiapun.
Diam-diam Hoa Thian-hong kesal juga melihat perempuan itu membuntuti terus jejaknya, dalam hati ia berpikir, "Waaduuuh….celaka nih kalau sampai aku
dilengketi terus olehnya, apa yang musti kulakukan?"
Otaknya dengan cepat bekerja keras untuk mencari akal guna melepaskan diri dari penguntitan perempuan itu, namun tak sepotong siasatpun yang berhasil didapatkan, Akhirnya dengan perasaan apa boleb buat katanya "Waktu sudah tidak dapat pagi2, siauwte siap akan pergi "Lari Racun" cici bagaimana kalau kau pulang
dulu kekuil It Goan Koan? besok siauwte pasti datang berkunjung lagi."
"Iiiiirh.,..masih benar mulutmu itu," ejek Giok Teng Hujien sambil tertawa cekikikan. "Cici tak pernah menduga kalau kau sepandai itu untuk merayu perempuan"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, kedua orang itu sudah berjalan keluar dari rumah penginapan
dan menuju ke jalan raya. Bergaul dengan perempuan seperti ini, Hoa Thianhong
merasakan hatinya selalu kebat-kebit diliputi rasa takut, ia takut tindakannya yang keliru akan mengakibatkan munculnya kembali seorang musuh
tangguh, waktu itu baik perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie maupun Tong-thian-kauw akan menjadi musuhnya membuat ia sama sekali tiada tempat untuk berpijak, keadaan seperti itu pastilah mengenaskan sekali.
Tiba-tiba terdengar Giok Teng Hujien tertawa dan berkata, "Kau sudah bergadang semalam suntuk, aku
pikir perutmu tentu sudah lapar, ayoh aku undang kau pergi makan pagi"
Hoa Thian-hong tidak tahu musti menampik atau menurut saja terhadap undangan nya itu, terpaksa dengan mengikuti disisinya mereka berangkat menuju ke pusat kota.
Bersambung
Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network











No comments:

Post a Comment