Bara Maharani
Karya : Khu Lung
diterjemahkan oleh Tjan Ing Djoe
JILID 10 : Kecintaan Chin Wan Hong
Orang ini sebetulnya tidak banyak bicara tetapi akhirnya meluncurlah kata-kata yang amat panjang mengisahkan petualangannya kemarin malam dengan
pelacur.
Tang Loo Hu-Hoat dengan penuh kenikmatan mendengarkan kisah cerita rekannya itu badan tegak lurus dan matanya melotot besar, sedangkan si kakek she Soen itu sambil mengedipkan matanya melek merem mendengarkan pula dengan penuh perhatian: se-akan2
diapun tergiur oleh cerita itu.
Hanya Hoa Thian-hong seorang yang tidak ambil perhatian, sambil duduk di kursi ia menikmati air tehnya.
Sementara sepasang matanya memperhatikan manusia yang berlalu lalang di atas jalan raya sambil kadang kala melirik sekejap ke arah si manusia bercodet di sudut ruang itu.
Mendekati tengah hari, tamu yang berkunjung di hotel rumah makan itu makin lama semakin banyak. Hoa Thian-hong-pun segera bangun berdiri, ujarnya sambil tertawa, "Silahkan kalian bertiga bercerita disini, siauwte hendak mohon diri terlebih dahulu."
"Hoa heng, apakah kau hendak peng "Bauw Tok"lari racun?" tanya Tang Loo Hu hoat dari perkumpulan Sinkie-pang dengan penuh perhatian
Sambil tersenyum Hoa Thian-hong mengangguk ia segera menjura ke arah tiga orang itu dan meninggalkan loteng tersebut.
Tiba-tiba si Utusan Pencabut Nyawa Ma Ching-san ikut bangun berdiri, bisiknya lirih, "Sebelum kentongan nanti, siauwte akan datang ke rumah penginapan untuk
menjemput dirimu"
"Ma heng"terdengar kakek she Soen menyindir dengan suara keras," Perbuatan seorang pria sejati tidak takut diketahui orang lain, kenapa sih kau berbisik
macam orang perempuan Saja?"
Hoa Thian-hong malas untuk mendengarkan pencekcokan diantara ketiga orang itu, baru saja ia hendak berlalu mendadak dilihatnya jari tangan si-pria bercodet di sudut ruangan yang sedang memegang poci teh itu gemetar keras,
Walaupun gerakan itu sangat lirih tetapi kebetulan Sekali terjatuh ke dalam pindangan Hoa Thian-hong membuat si anak muda itu segera menyadari akan
sesuatu, dengan cepat dia alihkan sinar matanya keluar jendela.
Tampaklah dari depan pintu kantor Cabang
perkumpulan Hong-im-hwie meluncur masuk tujuh \ delapan ekor kuda jempolan, orang pertama yang ada di
paling depan adalah seorang pria berwajah putih yang memakai pakaian perlente Ketajaman matanya pada saat ini sudah berbeda jauh dengan keadaan dahulu. hanya sekilas memandang ia telah berhasil melihat raut Wajah kedelapan orang yang berada di atas kuda itu, Satu ingatan kembali berkelebat di dalam benaknya. Pemuda itu masih teringat bahwa pria berwajah putih berbaju perlente itu bukan lain adalah "Pat-Pit-Siuw-loo" atau si Malaikat berlengan
delapan Cia Kim dari perkumpulan Hong-im-hwie.
Agaknya kakek tua she-Soen itupun menemukan bahwa ada orang tiba di kantor cabangnya, buru-buru ia tinggalkan meja sambil berseru, "Sam Tang-kee dari
perkumpulan kami telah tiba, maaf. Siauwte terpaksa harus berangkat lebih duluan"
Setelah menjura, kepada semua Orang, dia pun berlalu.
Dalam hati kecil Hoa Thian-hong sebetulnya ingin sekali duduk beberapa saat lagi disitu Sambil mengawasi gerak-gerik pria bercodet itu, apa daya raCun Teratai Empedu Api yang bersarang ditubuhnya sudah mulai kambuh, terpaksa ia tinggalkan Mu dan Tang dua orang
itu dan berlalu lebih dahulu
Setibanya diluar kota, racun teratai telah kambuh, Hoa Thian-hong pun terpaksa kerahkan tenaga dalamnya untuk berlarian mengelilingi tembok kota tersebut.
Ia sudah sebulan lamanya berdiam di kota Cho-Chiu, setiap tengah hari bila racun teratainya kumai ia musti ber-lari2an mengelilingi tembok kota, orang yang
mengetahui bahwa di dalam tubuhnya mengandung segera memberikan julukan "Bauw-Tok" atau Lari Racun kepadanya.
Hoa Thian-hong yang ada maksud memancing perhatian ibunya tidak menyaru dengan nama lain lagi, asal usulnya juga tidak dirahasiakan, maka semua orang di kota itu pada mengetahui bahwa "Hoa Thian-hong Lari racun mengelilingi kota Cho-Chio Bukan begitu saja bahkan kabar berita ini tersiar pula
sampai ke dalam telinga Perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Tong-thian-kauw, cuma ia sendiri sama sekali tidak mengetahuinya.
Tenaga dalamnya secara tiba-tiba memperoleh kemajuan yang amat pesat, daya kerja racun teratai yang berada di dalam tubuhnya pun kian hari kian
bertambah ganas, setiap kali kambuh sekujur tubuhnya terasa sakit dan amat menderita sekali.
Dalam keadaan begitu ia berhenti berlatih ilmu lweekang, tetapi gerakannya berlari-larian kencang tidak jauh berbeda dengan berlatih tenaga dalam, tenaga murni yang dimilikinya tetap memperoleh kemajuan yang pesat, sementara daya kerja racun teratai semakin hari semakin menggila.
Ketika malam pertama tiba disana, dalam waktu setengah jam ia hanya bisa mengelilingi tembok kota itu sebanyak dua kali lingkaran kini gerakan tubuhnya cepat
bagaikan hembusan angin, dalam waktu setengah jam sudah empatbelas kali dia mengitari tembok kota tersebut.
Oleh sebab itulah wilaupun orang Cho Chiu tak pernah menyaksikan si anak muda itu turun tangan tapi siapapun mengetahui bahwa ilmu silat yang dimiliki olehnya luar biasa sekali, serangannya tentu dahsyat
bagaikan gulungan ombak di samudra.
Selama ini pihak Sin-kie-pang, Hong-im-hwie dan Tong-thian-kauw mengawasi gerak-geriknya dengan ketat, hanya saja hingga detik itu belum pernah ada salah satu pihak yang menggunakan kekerasan
menghadapi dirinya. sebaliknya si anak muda itu sendiri juga bertindak sangat hati-hati, ia tak berani bertindak terlalu gegabah.
Setelah berlarian selama setengah jam, daya kerja racun teratai telah tenggelam kembali ke dasar pusar, dengan badan basah kuyup oleh keringat ia pulang ke
rumah penginapan untuk mandi dan tukar pakaian. selesai bersantap siang pemuda itu berpesiar dijalan raya sambil menantikan kedatangan ibunya.
Sore itu bayangan tubuh si pria codet berkecamuk di dalam benaknya, setelah pusing. kepala beberapa saat akhirnya dia ambil keputusan untuk menyingkirkan
dahulu persoalan tentang Pek Kun-gie serta Giok Teng Hujien, seorang diri berangkatlah dia untuk menyelidik keadaan si manusia bercodet itu.
Ketika senja meajelang tiba, seorang diri ia berjalan keluar dari rumah penginapan keluar dari pintu barat masuk dan pintu timur setelah berputar kayun menghilangkan jejak, akhirnya pemuda itu
menyembunyikan diri di sekeliling kantor cabang perkumpulan Hong-im-hwie.
Suasana di dalam gedung kantor cabang perkumpulan Hong-im-hwie itu nampak terang benderang bermandikan cahaya, suara gelak tertawa amat berisik hingga kedengaran dari luar gedung, di pintu depan manusia berlalu-lalang dengan ramainya menunjukkan suasana disitu diliputi kesibukan.
Beberapa saat kemudian tandu demi tandu diterangi lampu lentera masuk ke dalam gedung di belakang tandu mengiringi sekelompok muda-mudi yang membunyikan alat bunyi-bunyian.
"Aah, kentongan kedua sudah lewat" pikir Hoa Thianhong suatu ketika. "Andai kata si pria berlengan buntung itu ada maksud menyirepi tempat ini, semestinya ia akan
muncul pada waktu-waktu begini…"
Perhatiannya terhadap persoalan kecil membuat pengalaman si anak muda ini memperoleh kemajuan yang pesat, karena takut rahasianya ketahuan maka
selama ini dia hanya berani mengintip dari tempat kegelapan.
Waktu sedetik demi sedetik telah berlalu, suara nyanyian dan musik yang berkumandang dari dalam gedung makin lirih dan sirap, lewat beberapa saat
kemudian para penyanyi dan penari mohon diri berlalu dari gedung tersebut.
Mendadak…. terdengar suara derap kaki kuda berkumandang memecahkan kesunyian, empat ekor kuda jempolan muncul dari balik pintu dan langsung
menuju ke arah pusat kota.
Dari tempat persembunyiannya Hoa-Thian-hong dapat melihat jelas raut wajah beberapa orang itu. orang pertama bukan lain adalah "Pat-Pit Siuwloo" si malaikat
berlengan delapan Cia Kim, orang kedua adalah hweesio berbadan gemuk, berkepala besar dengan mata bulat dan berwajah penuh diliputi nafsu membunuh,
dibelakang padri itu mengikuti seorang pemuda berpakaian ringkas warna hitam dan berusia diantara dua puluh tahunan.
Hoa Thian-hong masih ingat sewaktu berada ditepi sungai Huang-ho tempo dulu, pemuda ini pernah saling beradu tenaga dengan Kok See-piauw, alhasil kekuatan
mereka seimbang dan siapapun tidak berhasil merebut kemenangan.
Orang terakhir she-Ciauw bernama Khong, dia adalah Touwcu atau ketua kantong cabang perkumpulan Hongim-hwie di kota Cho Chiu.
Dengan cepatnya keempat orang itu berlalu dari situ, Hoa Thian-hong tak berani gegabah ia awasi dulu keadaan di empat penjuru sebelum bertindak, baru saja hatinya merasa sangsi harus membuntuti atau tidak mendadak dari sudut jalan berkelebat lewat sesosok
bayangan manusia. dengan meminjam kegelapan yang mencekam di sekitar sana orang itu membuntuti Cia Kim berempat dari tempat kejauhan.
Begitu melihat tubuh dari bayangan manusia tadi. Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, pikirnya, "Sungguh
lihay ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu, walaupun aku harus berlatih lima tahun lagipula belum tentu bisa menyusul dirinya,…"
Terlihatlah bayangan manusia tadi berkelebat mengikuti tepi jalan raya. gerakan tubuhnya tidak terlalu cepat tetapi se-bentar2 berpindah tempat dari kiri ke
kanan dan dari kanan ke kiri begitu seterusnya, Hoa Thian-hong walaupun sudah pentang matanya namun gagal untuk memperhatikan gerakan tubuh orang itu.
Dalam sekejap mata keempat ekor naga tadi sudah berhenti di depan sebuah gedung tempat berjudi, bayangan hitam tadipun segera berkelebat ke samping
dan lenyap dari pandangan, Buru-buru Hoa Thian-hong menyembunyikan diri di tempat kegelapan, pikirnya, "Cia Kim bukanlah seorang manusia biasa, orang itu berani mencabut kumis di wajah harimau rasanya diapun pasti bukan seorang jago biasa.
Kepandaian silat yang kumiliki terlalu cetek, lebih baik tindakanku lebih berhati-hati sehingga tidak sampai menggagalkan rencana orang "
Berpikir sampai disitu ia segera menyembunyikan diri di tempat kegelapan dan menunggu dengan hati sabar, sedikitpun tidak berani bergerak secara sembarangan.
Bersambung
Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network
No comments:
Post a Comment